Skip to main content

Naik Tanpa Panik

Belum pulih seratus persen dari pandemi Covid-19, negara-negara di dunia, termasuk Indonesia menghadapi tantangan baru yaitu gejolak harga barang dan jasa. Tingkat inflasi yang meninggi pun kian menekan daya beli masyarakat.

Di negara kita, data inflasi per Juli 2022 yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 4,94% atau naik dari posisi Juni 2022 di angka 4,35%. Angka tersebut memang mengkhawatirkan karena ini data inflasi tertinggi sejak Oktober 2015.

Komoditas pangan dan energi menjadi sumber utama kenaikan inflasi nasional. Bahan pangan berkontribusi 10,88% terhadap inflasi sepanjang tahun ini, yang didorong kenaikan harga cabe merah dan bawang merah. Harga minyak goreng berhasil diredam, tetapi harga telur masih menjadi tantangan.

Tekanan dari komoditas energi pun demikian besar. Selama Juli 2022, inflasi yang disebabkan komoditas energi telah mencapai 5,02% (yoy). Produk turunan dari sektor energi seperti tarif angkutan udara, bahan bakar rumah tangga dan bensin menjadi penyumbang inflasi sepanjang tahun ini.

Saat ini, masyarakat pun harus bersiap merogoh kocek lebih dalam untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) kendaraan. Harga solar dan bensin yang disubsidi telah menghabiskan kuota anggaran pemerintah.

Kompensasi dan subsisi BBM dan gas yang menembus Rp502 triliun membuat langkah penaikan harga BBM bersubsidi menjadi keniscayaan yang harus dihadapi masyarakat.

Kita mengapresiasi langkah pemerintah pusat yang tetap berupaya agar pilihan kebijakan yang tidak populer tersebut tidak menjadi hambatan pemulihan ekonomi nasional.

Pada Senin (29/8), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Menteri Sosial Tri Risma telah mengumumkan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat melalui pengalihan Rp24,17 triliun anggaran subsidi BBM.

Pemberian bansos dalam rangka meningkatkan daya beli masyarakat miskin dan rentan miskin. Bansos tersebut dapat meredam tekanan dari kenaikan harga sejumlah barang dalam beberapa waktu terakhir. Bansos itu terdiri dari tiga jenis, yang berasal dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Pertama, pemerintah akan memberikan bantuan langsung tunai (BLT) senilai Rp600.000 untuk 20,65 juta keluarga masyarakat miskin. Anggaran pembayaran BLT itu mencapai Rp12,4 triliun yang berasal dari pengalihan anggaran subsidi BBM.

Kedua, pemerintah akan memberikan bantuan senilai Rp600.000 untuk 16 juta pekerja dengan gaji maksimal Rp3,5 juta per bulan dan total anggaran yang disiapkan Rp9,6 triliun.

Ketiga, pemerintah akan mengalokasikan 2% dana transfer umum, yang terdiri dari dana alokasi umum (DAU) dan dana bagi hasil (DBH), untuk bantuan sosial ke sektor transportasi umum. Untuk jenis bansos ini total anggarannya mencapai Rp2,17 triliun.

Selain itu, pemerintah daerah akan memberikan bansos itu dalam bentuk subsidi angkutan umum hingga untuk dengan ojek dan nelayan.

Kebijakan bantuan sosial tersebut memang akan sangat berarti bagi masyarakat. Meski demikian, pemberian bansos tetap tidak menutup fakta bahwa tekanan inflasi hingga akhir tahun ini masih cukup menantang.

Kita sepakat dengan arahan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang mengingatkan seluruh pemerintah daerah (pemda) untuk tidak menganggap enteng isu inflasi. Kenaikan harga barang dan jasa haruslah menjadi isu prioritas bagi pemda.

Pemerintah daerah harus berperan aktif dengan memperhatikan kelancaran suplai barang dan menjaga distribusi komoditas dengan mencegah penimbunan barang, menyediakan kelayakan infrastruktur untuk distribusi, serta antisipasi proses distribusi dalam kondisi gangguan cuaca.

Hal utama lain yang diwanti-wanti adalah pemda harus berhati-hati dalam menyampaikan kondisi inflasi dan ketersediaan komoditas pokok di daerah kepada masyarakat. Komunikasi publik harus dilakukan dengan baik dan terkendali. Jangan bikin masyarakat panik dan malah memicu inflasi lanjutan.

Sinergi dan konsistensi tim pengendalian inflasi daerah dan pusat (TPID/TPIP) perlu lebih optimal dalam memantau dan menyiapkan solusi menghadapi inflasi pangan dan energi.

Kita berharap pemerintah tetap memegang kendali utama dalam mengendalikan inflasi sehingga upaya pemulihan ekonomi tetap berlangsung dan agar negara ini bangkit lebih kuat.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...