Monday, February 27, 2012

Broker valas bermasalah, OTC, akun mini & akun mikro

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi atau Bappebti tengah membidik sejumlah broker berjangka ilegal yang beroperasi di Indonesia, yang melanggar ketentuan UU No. 10 tahun 2011 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi.

Pelanggaran atas ketentuan itu diancam dengan hukuman paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp20 miliar.

Berikut adalah daftar broker bermasalah yang yang didapat Bisnis dari Alfons Samosir, Kepala Biro Hukum Bappebti. Dia berharap masyarakat tidak menaruh dananya pada pialang ilegal, yang sebagian besar menawarkan produk perdagangan foreign exchange (forex).

(http://www.bisnis.com/articles/bappebti-ini-dia-daftar-broker-valas-bermasalah-di-indonesia-1)








1. PT Central Asset Internasional, beralamat di Jakarta dengan jenis perdagangan valuta asing.

2. PT AFS Global R (PT Glosky), beralamat di Komplek Ruko Mega Grosir Cempaka Mas, Blok E 1 No. 6 Jakarta. AFS menawarkan produk forex, kasusnya ditangani Polda Metro Jaya.

3. PT Megatama Informatika, beralamat di Sampoerna Strategic Square Lt.21, Jakarta. Jenis perdagangan yang dilakukan adalah forex, kasusnya ditangani Polda Metro Jaya.

4. PT Skyeast Investama Corporation, beralamat di Jl. Ujung Pandang 2 No. 4, Makassar. Skyeast memperdagangkan produk forex, index, dan CFD.

5. PT Capital Trade Int’l, beralamat di Jakarta dengan jenis perdagangan forex.

6. PT IKO Fx, berdomisili di Jln. Tukad 4 B Panjer, Denpasar. Kasusnya ditangani Reskrim Poltabes Denpasar.

7. PT. Mondial Internasional, beralamat di Jakarta dengan jenis perdagangan forex.

8. PT. MIG (online trading), beralamat di jakarta dengan jenis perdagangan forex.

9. PT Amasis yang beralamat di Gd. Bursa Efek Jakarta Tower II Lt. 12, Jl. Jendral Sudirman Kav. 52-53 Jakarta.

10. PT Tazkia Mitra Mulia yang beralamat di Jl. Pejajaran Timur II No. 11A Sumber, Surakarta. Jenis perdagangan forex dan kasusnya ditangani Poltabes Surakarta.

11. PT Howard, beralamat di Gd. Grha Surya L.2 Jl. Setia Budi Selatan 1 kav.9, Kuningan, Jakarta Selatan.

12. CV Sinar Sejahtera yang beralamat di Jl. Sidomulyo No. 19 Wonosobo, Jawa Tengah, dengan jenis perdagangan forex. Belum ada penanganan, hanya ada pengaduan nasabah.

13. FXOpen Invesment Inc., beralamat di Menara BCA Jl. Thamrin No. 1 Jakarta. FXOpen memperdagangkan forex, namun hingga saat ini belum ada pengaduan dari nasabah.

14. Master Forex Jakarta, di CBD Area Artha Graha Building 6th Floor, No. 18 Jl. Jendral Sudirman, Jakarta. Perusahaan bergerak dalam perdagangan forex, tapi hingga saat ini belum ada pengaduan dari nasabah.

15. Master Forex Bandung yang beralamat di Komplek Ruko Pascal Hypersquare Blok B-18, Jl. Pasarkaliki Bandung. Belum ada pengaduan nasabah dari perusahaan forex ini, namun Bappebti telah memberikan peringatan.

16. Master Forex Yogyakarta, di Jl. Raya Seturan No. 100 Seturan, Yogyakarta. Perusahaan yang menjadi agen broker asal Rusia ini mengaku kepada Bisnis memiliki 1.000 lebih akun nasabah. Kantornya buka 24 jam.

17. Master Forex Tasikmalaya yang beralamat di Jl. Cipedes I No. 15A Tasikmalaya, Jawa Barat. Hingga kini belum ada pengaduan nasabah perusahaan yang bergerak dalam perdagangan valuta asing ini.

18. Master Forex Surabaya, di Gedung Bumi Mandiri Tower II Lt.4 No. 409 Jl.

19. Master Forex Borneo yang berkantor pusat di Jl. Ayani Kompleks Ruko Ayani Mega Mall Blok B23, Pontianak, Kalimantan Barat. Belum ada pengaduan nasabah.

20. Master Forex Sumatera Training Centre beralamat di Mandiri Building Lt.6 No. 606 Jl. Imam Bonjol No. 16 D Medan. Belum ada pengaduan nasabah perusahaan yang dipimpin Joe Maradoni Ginting.

21. BCAFx, beralamat di Jl. Mawar IV No. 7-8 Malang, Jawa Timur. Hingga kini belum ada pengaduan nasabah perusahaan yang bergerak dalam perdagangan forex ini. BCAFx merupakan introducing broker (IB) dari perusahaan Instaforex asal Rusia.

22. Surabaya Forex di SFX Center Jl. Panglima Sudirman No. 101-103 Surabaya. Bappebti belum menerima pengaduan nasabah dari perusahaan forex ini.

23. PT Cahaya Forex Yogyakarta dengan 13 cabang. Kasus cahaya forex ditangani Polda DIY dan pemiliknya telah ditangkap. Perusahaan yang dikenal pula sebagai Mandiri Investa menggunaka skema pengunmpulan dana masyarakat untuk diperdagangkan pada pasar mata uang. Skema ini belum diatur lebih lanjut dalam undang-undang.

24. PT Virgin Gold MC (VGMC) beralamat di Pontianak. Sudah ada pengaduan dari masyarakat, namun belum ada tindakan. Di internet, dikenal pula Virgin Gold Mining Corporation yang mengaku sebagai perusahaan investasi yang bergerak di bidang bisnis pertambangan logam mulia emas dan industri emas lainnya. Mereka menjanjikan keuntungan berlipat dalam waktu singkat.

25. PT Fatrial Member, perusahaan forex yang berdomisili di palembang, sudah dalam radar satgas waspada investasi. Model bisnisnya dengan menitipkan sejumlah uang dengan bunga antara 6%--7% per bulan, dibayarkan tiap tanggal 3.

26. PT Smart Investment Mandiri yang beralamat di Palembang.
27. PT Satrian Investment, juga beralamat di Palembang, dalam pantauan satgas.
28. PT Pioneer Investment, perusahaan yang bergerak dalam perdagangan forex beralamat di Palembang yang diketahui berdasar laporan masyarakat.

Selain ke-28 itu, Bappebti menengarai masih ada puluhan nama perusahaan yang memperdagangkan forex tanpa izin regulator.

"Alpari termasuk yang kami curigai, sekalipun mereka mengaku hanya melakukan edukasi," kata Alfons merujuk pada perusahaan broker asal Selandia Baru. Alfons mengakui bahwa adanya akun mini dan mikro jadi salah satu daya tarik broker asing.

Akun mini pernah diperbolehkan untuk ditawarkan broker lokal berizin sebelum 2006, tapi kemudian dilarang oleh Bappebti semasa dipimpin oleh Titi Hendrawati.

Hingga saat ini, menurut Alfons, regulator belum terpikir untuk memperbolehkan lagi akun mini dalam perdagangan valas. "Kalau untuk emas, mungkin bisa kita izinkan," katanya tanpa memberi keterangan lebih lanjut soal regulasinya.

Daftar nama perusahaan di atas, jika ditelisik lebih dalam, tidak semuanya broker bermasalah, melainkan skema penipuan yang dikenal dengan Ponzi atau money game, atau biasa disebut high yield investment program (HYIP).

Read more >>

Wednesday, February 22, 2012

Ini Formula Rahasia "Someone Like You" ~ Adele

Air mata Adele terkuras ketika dia patah hati karena ditinggal kekasihnya. Kini lagu Someone Like You, yang menceritakan kisah pedih penyanyi asal Inggris itu juga ikut menguras air mata pendengarnya.

Senandung sedih Someone Like You, yang melambungkan nama Adele, ternyata mengandung formula khusus yang dapat membuat pendengarnya dicekam perasaan emosional.

Anda pasti mengetahui perasaan itu. "Rambut di belakang leher Anda berdiri, getarannya sampai ke tulang belakang, tenggorokan Anda terasa tercekik, bahkan air mata menggenang di sudut mata," kata John Sloboda, dosen psikologi musik di Guildhall School of Music and Drama London, Inggris. Sloboda mempelajari reaksi fisik terhadap musik dan menemukan bahwa ornamen musik tertentu dapat memicu reaksi emosional yang kuat.






Ornamen musik inilah yang terdapat dalam lagu Someone Like You, yang dinyanyikan Adele, peraih enam penghargaan Grammy 2012. Lagu itu sendiri memang memancarkan kesedihan yang terbaca jelas dari syair lagu tentang hancurnya sebuah hubungan asmara. Adele memang menciptakan lagu ini untuk menceritakan pengalaman hidupnya, bagaimana dia tak kunjung mampu melupakan mantan kekasihnya.

Namun, di luar syair sedih itu, terdapat elemen lain yang membuat pendengar lagu ini ikut dicekam rasa sedih, tersembunyi di balik suara contralto dan denting piano, Adele memasukkan not dekorasi pengiris hati. Dekorasi itu bernama appoggiatura.

Istilah appoggiatura dikenal dalam buku teks musik sebagai ornamen yang disematkan pada lagu, sehingga membuat pelencengan nada atau dikenal sebagai disonansi. Sebagai dekorasi, appoggiatura direalisasikan sebagai not yang beberapa tingkat lebih tinggi atau lebih rendah ketimbang not sebelumnya. Kehadiran elemen ekstra inilah yang mengacaukan harmoni lagu.

Jauh sebelum Adele menyanyikan lagu Someone Like You, John Sloboda telah mengamati kaitan antara appoggiatura dan rasa haru. Pada 1991, dia meminta sejumlah pencinta musik menunjukkan bait lagu yang membuat tulang punggungnya merinding. Hasilnya, 90 persen peserta eksperimen menunjuk bait dengan ornamen appoggiatura di dalamnya.

Ahli psikologi dari University of British Columbia, Kanada, Martin Guhn, menelusuri latar belakang di balik hubungan ornamen lagu dengan rasa sedih, seperti yang ditunjukkan Sloboda. Martin Guhn, setelah 15 tahun kemudian, menemukan penjelasan tentang hal ini dengan menyebut appoggiatura sebagai ornamen yang bertugas mengaduk-aduk perasaan pendengar.

"Not pada appoggiatura menciptakan ketegangan bagi pendengar," ujar dia kepada Wall Street Journal.

Konduktor sekaligus komentator musik, Rob Kapillow, mengatakan appoggiatura bertugas membuat ketidakselarasan sekejap yang pulih secara cepat pada nada berikutnya. Tak ada aturan mengenai berapa lama ketidakselarasan ini dimainkan. Namun pelencengan nada bisa dilakukan dua arah: lebih tinggi atau lebih rendah dari not pendahulu.

Not penerbit tangis menyerang sejak bait pertama. Adele memulai lirih pada kata-kata "I heard" yang harmonis atau biasa disebut konsonansi. Nada harmonis seperti ini menciptakan rasa lega di batin pendengar. Suasana lagu segera berubah ketika Adele melanjutkannya dengan kata-kata "that you're" yang turun setengah tingkat dari not sebelumnya. Hal ini disebut disonansi dan menciptakan guncangan batin.

Lagu kembali berlanjut dengan harmonis pada lirik "settled down". Setelah itu, not kembali turun melalui kata-kata "that you". Sangat wajar jika emosi bergejolak ketika diombang-ambing ketegangan dan kelegaan seperti ini.

"Appogiatura ada di seluruh bagian lagu. Disonansi dan konsonansi sahut-menyahut, ini yang dimaksud psikolog sebagai pembuat tangis," ujar Kapillow kepada NPR.

Contoh lain berada pada chorus. Kata "Nevermind I find someone like" yang harmonis diakhiri dengan kata "you" pada nada yang meloncat tinggi. Appoggiatura penerbit tangis kembali muncul.

Pembedahan lagu Adele kembali mengungkap rahasia. Ada empat faktor kunci yang teridentifikasi pada lagu penerbit tangis. Pertama, syair dimulai dengan lambat, kemudian mendadak berubah cepat. Kedua, muncul "suara" baru dari alat musik, menciptakan harmoni anyar.

Faktor kunci ketiga adalah terjadinya perluasan frekuensi suara, naik atau turun hingga beberapa tingkat. Keempat, muncul penyimpangan, sehingga mengacaukan harmoni. Semua faktor ini dipertegas dengan kejutan pada volume suara, warna nada, dan pola harmoni.

Jika lagu Someone Like You menciptakan kegalauan yang sangat besar, kenapa pendengar tetap menyukainya? Bahkan 21, album kedua penyanyi asal Inggris itu, menjadi album terbaik dalam penghargaan Grammy 2012 meski seluruh tembangnya menyuarakan kegalauan hati.

Penelitian oleh Robert Zattory dari McGill University menyebutkan musik yang mengguncang emosi membuat tubuh melepaskan dopamine dari otak tengah. Substrat ini juga dilepaskan ketika manusia mengkonsumsi makanan, melakukan aktivitas seksual, atau mengkonsumsi narkoba. Karena itu, menurut Zattory, semakin menyedihkan sebuah lagu, semakin sering pendengar mengulangnya.

Perlahan namun pasti, lagu sedih dengan ornamen appoggiatura akan menapaki tangga popularitas. Sebagai bukti, lagu-lagu yang memakai appogiatura, seperti Without You oleh Mariah Carey, We Can Work It Out oleh The Beatles, dan Rainbow Connection oleh Kermit The Frog juga mendapat penerimaan luas oleh pencinta musik.
Read more >>

Tuesday, February 21, 2012

Jeratan utang Glasgow Rangers & Portsmouth




Coba tanya ke Robin van Persie, top skor terbanyak sementara di Liga Inggris dengan 22 gol, siapa klub impiannya? jawabannya bukan Arsenal, klub yang diperkuatnya kini. Bukan pula Barcelona, AC Milan, Bayern Muenchen ataupun klub elit lainnya.

Van Persie ternyata begitu menyukai Glasgow Rangers, klub elit Skotlandia. Striker timnas Belanda itu pernah terpesona ketika bermain untuk Feyenoord Rotterdam dan menghadapi Rangers di kandang mereka di Ibrox Stadium.

Nama Glasgow Rangers menjadi buah bibir dalam sepekan terakhir karena krisis finansial. Dampaknya Rangers masuk dalam pengelolaan administratur dan parahnya terkena sanksi pengurangan 10 poin dari pencapaian di klasemen saat ini.

Akibatnya membuat klub yang berdiri pada 1872 tersebut tak bisa mempertahankan gelar juara yang diraih tahun lalu dan tak mampu mengejar Glasgow Celtics, rival sejatinya yang memimpin klasemen sementara Liga Skotlandia.

Soal duit pula yang membuat para fan Rangers meradang. Kekuatan finansial bagi mereka adalah mutlak jika ingin mempermalukan fan Celtics, klub sekota yang didirikan 1887, atau berselisih usia nyaris 15 tahun. Fan Rangers jelas tak ingin kehilangan muka di depan seteru mereka.

Permusuhan fan sekota itu memang sangat kental dan tak sekedar persaingan soal sepak bola. Isu sektarian dan agama juga mengemuka bila mengingat para Gers (suporter Rangers) yang mayoritas umat Kristen Protestan menghadapi fan Celtics yang identik dengan Katolik. Soal gelar, kedua tim juga bersaing ketat di mana Gers telah mengoleksi 51 kali juara liga, Celtic membayangi dengan 42 gelar liga.

Apalagi kala derby pertama di pertandingan persahabatan pada 1888, Celtics justru menang 5-2. Liga Skotlandia baru dimulai musim 1889/1890 dan publik selalu menyebut pertemuan kedua tim dengan istilah derby The Old Firm.

Kini, nasib Rangers memang boleh dikatakan apes. Selama 23 tahun terakhir, Gers sebenarnya mendapatkan banyak keuntungan dengan sentuhan midas David Murray.

Pada November 1988, David Murray yang baru berusia 37 tahun membeli Gers dengan nilai 6 juta pounds dari Lawrence Marlborough.

Sementara itu, seteru Gers, Glasgow Celtic pada 1994 justru yang nyaris pailit dan masuk pengawasan administrasi karena utang 7 juta pounds. Celtic beruntung, pebisnis Fergus McCann muncul sebagai malaikat dengan membeli 51 saham dan membawa klub melantai di London Stock Exchange.

Adapun Rangers di bawah kepemimpinan Murray kian mentereng dengan 15 gelar liga dan 26 piala termasuk pernah mengontrak megabintang seperti Brian Laudrup (Denmark) dan Paul "Gazza" Gascoigne, sang playmaker Inggris.

Pada 1998, Celtic mulai memutus dominasi Gers. Murray pun mulai gelagapan dan bertingkah di luar naluri bisnisnya dengan membeli pelatih dan pemain mahal. Dampaknya, utang klub menumpuk dan pada 2002, Gers berutang 80 juta pounds.

Pada 2004, Murray cukup cerdas dengan melakukan share issue dan meraup dana publik 51 juta pounds. Utang klub pun dimasukkan dalam pembukuan induk usaha Murray International Holdings (MIH). Pada 2006, utang klub tersisa 6 juta pounds.

Ambisi besar membawa konsekuensi dengan pelatih Paul Le Guen yang membeli pemain mahal dan utang klub kembali melenting menjadi 30 juta pounds. Pada 2010, utang induk usaha MIH menjadi 175 juta pounds.

April 2010, MIH mulai menghadapi sengketa dengan instansi pajak Inggris, Her Majesty's Revenue and Customs (HMRC). Hal itu karena Murray menggunakan skema Employee Benefit Trusts (EBT) dan mengalihkan kewajiban pajak perusahaan kepada pegawainya.

6 Mei 2011, Murray terpaksa menjual klub kepada Craig Whyte dengan nilai hanya 1 poundsterling. Angka tersebut karena klub masih memiliki utang belum terbayar sebesar 22 juta pounds ke kreditur, termasuk 18 juta pound kepada Lloyds Banking Group.

Akuisisi itu menyisakan kontroversi karena ada pihak-pihak yang menghendaki pemerintah dan otoritas liga mengklarifikasi adanya dugaan perjanjian finansial tertentu dalam proses pembelian saham.

Kasus pajak dan kekalahan pengadilan melawan HRMC membuat Rangers dikenai sanksi denda US$49 juta. Namun Paul Clark dan David Whitehouse, dua adminsitrator dari Duff and Phelps yang ditunjuk pengadilan, menilai masa depan Rangers masih cerah.

Krisis finansial tak hanya di Skotlandia, nyaris semua liga utama Eropa juga menghadapi bayang-bayang jeratan utang. Bulan lalu, Neuchatel Xamax (Swiss) mengajukan status pailit ke pengadilan karena sang pemilik Bulat Chagaev (pengusaha Chechnya) tak mampu membiayai operasional klub.

Di Spanyol, klub-klub papan tengah seperti Espanyol, Real Mallorca, dan bahka Real Zaragoza harus mampu melakukan financial engineering untuk menutupi tagihan utang 110 juta euronya.

Kasus teranyar pekan kedua Februari 2012 justru muncul dari tanah Inggris, di mana Portsmouth FC mengirim permohonan kepada Pengadilan Tinggi agar dimasukkan dalam pengawasan administrasi, dan itu mengulangi kisah kelam serupa pada 1998 dan 2009.

Portsmouth, klub yang pernah dilatih Terry Venables, Jim Smith hingga Harry Redknapp itu memang bermasalah sejak beberapa tahun terakhir, Nama-nama konglomerat keluar masuk menjadi pendonor seperti Milan Mandaric, Sulaiman Al Fahim, Ali Al-Faraj, Alexandre Gaydamak, dan Balram Chainrai.

Pada 2011, Vladimir Antonov sang pemilik baru lebih parah karena dua bank miliknya di Lithuania dan Latvia disita pemerintah. Dia bahkan ditangkap di London pada 29 November sebelum akhirnya bebas dengan dana jaminan. Kini Portsmouth menghadapi gugatan HMRC dengan nilai sengketa pajak 1,6 juta pounds.

Nasib klub di tengah krisis keuangan di Eropa bisa jadi ibarat telur di ujung tanduk. Mungkin para klub bisa keluar dari jeratan utang tetapi jelas membeli pemain mahal seperti Robin van Persie tak akan mudah bagi Rangers kala sehat nanti.
Read more >>

Sunday, February 19, 2012

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?”








Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram.

Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai tubuhnya terguncang ke belakang. Mendekat ke Hasan, ia ikut membaca beberapa helai kertas. Para pemuda lainnya, sekitar sepuluh orang, duduk diam. Mereka menanti sang bos menghitung “peluang bisnis” hari itu.

Setengah jam kemudian, rombongan enam orang meninggalkan mes dengan Daihatsu Xenia perak. Dua orang lainnya terpisah dengan sedan tua. Tujuan mereka satu rumah toko di kawasan Bukit Indah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dalam catatan, pemiliknya seorang pemasok perusahaan pengeboran. Ia berutang Rp 3 miliar kepada pemberi order penagihan utang.

Sebelum mereka berangkat, Umar menelepon seorang petugas di Kepolisian Sektor Kelapa Gading. Ia menyampaikan rencana kedatangan anak buahnya di wilayah itu. “Ini koordinasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” katanya kepada Tempo.

Kepala Polsek Kelapa Gading Komisaris Donny Adityawarman mengatakan pernah mendengar nama Umar. Tapi ia mengaku belum pernah bertemu langsung. “Mungkin dia telepon anak buah saya,” katanya ketika dimintai konfirmasi. Ia menganggap penting “koordinasi” semacam itu, “Agar tidak terjadi kericuhan di lapangan.”

Mobil melaju cepat. Sopirnya sembrono, sering mengerem atau membelok mendadak. Hasan masih mengomel soal keributan kecil di mes tadi. Radio memutar musik dangdut. Di perjalanan, seorang polisi meminta mobil menepi. Mobil terus berjalan. Polisi tadi hanya mencatat pelat nomor mobil.

Di daerah Kelapa Gading, Hasan semakin bersungut-sungut. Alamat di dokumen ternyata tidak jelas. “Mana ada Jalan Kelapa Gading?” ia berkata. Anggota rombongan sibuk menelepon, menanyakan alamat yang tepat. Alhasil, mobil berputar-putar sekitar dua puluh menit, sebelum menemukan rumah tujuan.

Sebelum turun dari mobil, Hasan mengeluarkan perintah, “Itu mobilnya, jaga!” Ia menunjuk mobil Mitsubishi merah marun. Anak buahnya menyebar di sepanjang lapangan parkir. Hasan masuk menemui resepsionis. Penerima tamu kantor itu didampingi lelaki berseragam tentara dan seorang pemuda, yang juga berbadan gelap.

Si tentara mengatakan, Terro, sang pengusaha pengutang, keluar kantor. Hasan tidak percaya. Ia didampingi seorang rekannya lalu masuk dan naik ke lantai dua. Terdengar bunyi barang jatuh dan bentakan. Ia masuk ke ruang Terro, yang terkejut. Negosiasi berlangsung sekitar setengah jam. Pada akhirnya, tuan rumah berjanji akan mencicil utangnya. Cicilan pertama, Rp 50 juta, akan dibayar pekan berikutnya.

Para penagih puas, mereka lalu beranjak. Sebelum ke luar gedung, mereka menyalami akrab lelaki berseragam tentara dan pemuda di ruang tamu. Mobil lalu meluncur ke arah Manggarai. “Di sini tentara yang jaga lebih banyak,” kata Hasan. Tujuan kedua, seorang pengutang satu bank perkreditan rakyat, yang kerabatnya tentara.

Di lokasi, rombongan penagih disambut seorang lelaki-para penagih menduganya intel-dua polisi, dan dua tentara. Para penagih menyebar. Empat orang masuk halaman rumah, empat lainnya menyebar di gang berjaga-jaga. Kali ini negosiasi lebih alot. Si pengutang tidak ada di tempat. Ketika penagih menunggu, datang mobil patroli polisi dan dua lelaki berkaus tentara.

Hasan memerintahkan anak buahnya membeli nasi padang. Ia sendiri emoh makan “jika urusan belum selesai”. Tak berapa lama, muncul seorang lelaki gondrong. Ia membagi beberapa helai fotokopi buat Hasan dan anak buahnya. Isinya tawaran mediasi pada pekan berikutnya. Hasan puas dengan tawaran ini. Rombongan balik menuju mes.

Umar mengatakan telah melayani jasa penagih utang sepuluh tahun terakhir. Ia mengatakan, sebelum menerima order, “tim hukum”-nya mengkaji dulu dokumennya. Kadang kala pemberi kuasa memiliki posisi kuat. Kali lain justru sebaliknya. Ia tak menolak order dari pihak yang lemah posisi hukumnya.

Menurut dia, bagian untuk penagih utang sekitar 30 persen dari jumlah utang yang dapat ditagih. “Kadang bisa lebih jika tingkat kesulitannya tinggi,” katanya. Jika target terbilang bandel, ia punya cara menaklukkannya. Ia akan mengirim orang dalam jumlah besar ke rumah atau kantor si pengutang. “Sekadar duduk-duduk saja,” katanya.

Ia mengatakan tak pernah memerintahkan anak buahnya melakukan kekerasan. Menurut dia, sepuluh orang anak buahnya yang melakukan kekerasan langsung dikirim pulang ke kampung di Desa Kei, Maluku Tenggara. “Tidak boleh balik ke Jakarta,” ujarnya.

Umar mengatakan memiliki banyak mes sejenis di berbagai tempat di Jakarta. Tak hanya dari kampung halamannya di Ambon, ia merekrut pemuda dari daerah lain. Jika kurang orang, ia akan mengerahkan pemuda dari mes terdekat dengan lokasi penagihan.

Dua-tiga tahun terakhir, Umar meresmikan usahanya. Ia mendirikan PT Dimida Mitra Mandiri, yang berkantor di kawasan Cibubur. Perusahaan ini rencananya akan menyuplai tenaga sekuriti kantor, parkir, atau mal hingga pengerjaan proyek-proyek ringan pemerintah, seperti pengecatan.

Umar mengklaim perusahaannya mempekerjakan 4.000 orang di berbagai titik di Ibu Kota. Ia juga bermain dalam jasa penjagaan tanah sengketa. Satu aksinya sempat menarik perhatian media massa, ketika ia membela Umar bin Ramin yang bersengketa dengan PT Astra Honda Motor pada pertengahan tahun lalu.

Lahan seluas 11.370 meter persegi itu telah dipakai untuk gudang suku cadang Astra selama beberapa tahun. Padahal Umar bin Ramin merasa tidak pernah menjual lahannya. Umar Kei lantas mengerahkan sekitar empat ratus anak buahnya untuk memasuki lahan. Ujung-ujungnya, ia ditangkap dan disidang dengan tuduhan melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Tapi pengadilan membebaskannya.

Gudang perusahaan mobil itu akhirnya dirobohkan pada September tahun lalu. Kemenangan ini membuat Umar Kei sumringah. “Anda sekarang tahu siapa Umar Kei,” kata Umar kepada salah satu penasihat hukum Astra.

Penagihan utang dan penjagaan lahan sengketa merupakan satu usaha yang dilakukan para jagoan. Usaha lainnya mengelola parkir atau pengamanan kantor. Usaha ini yang dipilih Abraham Lunggana, 50 tahun. Mendirikan PT Putraja Perkasa pada awal 2000, ia masuk jasa pengelolaan parkir dan pengamanan. Putraja memiliki anak perusahaan, PT Sacom. Abraham mengklaim mempekerjakan sekitar 4.000 tenaga kerja. “Dulu sempat lebih besar dari itu,” katanya.

Anak buah Abraham-dikenal dengan panggilan Lulung-menangani pengamanan Blok F Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, tempat para pedagang kelontong. Ia mengambil alih “kekuasaan” yang sebelumnya dipegang oleh seorang jawara bernama Muhammad Yusuf Muhi alias Bang Ucu Kambing, 62 tahun.

Setiap hari, sekitar lima puluh orang berjaga dan terbagi dalam tiga shift. Ini belum termasuk petugas “pengamanan wilayah”, yang berpakaian preman. Mereka juga menertibkan pedagang yang berjualan di luar lokasi yang ditentukan. “Kadang-kadang suka ada pedagang yang buka lapak di jalan masuk,” kata Iskandar Alan, anggota staf Putraja.

Lulung mengatakan perusahaannya menangani pengamanan sejumlah area strategis di kawasan Jalan Thamrin dan beberapa tempat lain, termasuk Rumah Sakit Fatmawati. Pemuda dari perusahaan ini kebanyakan putus sekolah. “Ada juga satu-dua yang berlatar belakang kriminal,” kata Alan. “Perusahaan ini memperoleh semacam sertifikat kelayakan dari kepolisian.”

Para pemuda itu dibayar dengan standar upah minimum regional, sekitar Rp 1,2 juta per bulan. “Sedangkan manajemen memperoleh management fee dari user,” katanya. Ia menolak menyebutkan kisaran jumlahnya.

Direktur Utama PD Pasar Jaya, Djangga Lubis, mengatakan penggunaan jasa pengamanan dan pengelolaan parkir eksternal sudah diterapkan sejak setahun lalu. Ia membenarkan perusahaan Lulung memenangi tender dari perusahaan milik Ucu.

Soal mantan kriminal yang masuk menjadi sekuriti lewat perusahaan penyedia ini, Djangga mengatakan menyerahkan sepenuhnya kepada perusahaan penyalur. “Yang penting, ada sertifikat kelayakan dari kepolisian,” katanya. Jika layanan tidak memuaskan, “Kami tidak akan memperpanjang kontrak.”

Untuk perparkiran dan sekuriti, Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, juga menggunakan jasa Putraja. Atom Kadem, kepala unit yang melakukan proses tender, mengatakan manajemen rumah sakit mematok setoran per bulan yang wajib dipenuhi Putraja.

Di bisnis penjagaan ini, kelompok Forum Betawi Rempug juga ikut bermain. Koordinator Wilayah Jakarta Timur, Abdul Manan, mengatakan, ia bekerja sama dengan PT Target. Sejauh ini ia sudah menyalurkan tiga puluhan pemuda Betawi sebagai petugas satuan pengamanan kantor dan mal.

Untuk jasa pengamanan pasar atau mal, Umar Kei mengatakan para pemuda Ambon kurang berminat. Alasannya, harus mengenakan seragam. Ia mengatakan, “Kami punya harga diri tinggi.”
Dari Blowfish ke Ampera

KEHIDUPAN malam menggelegak ketika penduduk kota mulai terlelap. Musik berdentam di Blowfish Kitchen and Bar, City Plaza, Wisma Mulia, Jakarta Selatan. Sabtu malam akhir Oktober lalu, para clubber datang dengan kostum khusus. Ini pesta malam Halloween. Semua berlomba menjadi sosok yang seram-seram.

Pengunjung dipungut Rp 100 ribu per orang, hadiahnya segelas minuman. Sedangkan anggota klub cukup menunjukkan kartu. Hingga pukul setengah tiga dinihari, ribuan remaja menyesaki klub malam itu. “Biasanya hanya separuhnya,” kata seorang petugas keamanan di sana.

Muda-mudi berjingkrakan, sebagian perempuan menari gila-mengentakkan tubuhnya yang berbusana minim. Pakaiannya penuh belahan di sana-sini. Tak sedikit yang berdisko di sofa. Semua bangku dan kursi terisi. Jam terus berputar dan pengunjung makin membeludak.

Satu-dua mulai tumbang. Dengan terhuyung, beberapa perempuan dipapah pasangannya. Pada malam yang semakin panas, tak jarang muncul pertengkaran. Petugas segera turun tangan, tak mau keributan kecil berbuntut panjang. Seorang petugas keamanan mengatakan penjagaan diperketat untuk mencegah kekerasan seperti yang meletup pada awal April lalu.

Kisahnya bermula pada Jumat malam, 2 April silam. Ketika itu seorang pengunjung bernama Albert Altanya datang ke bar. Sumber Tempo mengatakan Albert belum memesan meja dan bersitegang dengan petugas keamanan. Entah siapa yang memulai, ia kena pukul penjaga. Manajer Operasional Blowfish, Agung Budi Santosa, mengatakan hanya anggota yang boleh masuk. “Sepertinya ada salah paham,” katanya dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pertengahan bulan lalu.

Esoknya, Agrafinus Rumatora alias Nus Kei ditelepon rekannya, Matius Roy Willa, agar datang ke Blowfish. Keduanya mengenal Albert Altanya. Nus, Matius, dan Albert-ketiganya anggota kelompok Ambon dari Kei-segera meluncur bersama belasan orang lain. Setelah memesan meja, mereka pun segera minum. Sekitar pukul 22.00, Fredi, petugas keamanan, meminta Nus menemui manajer bar. Nus menolak. Menjelang tengah malam, Fredi mengulang permintaannya.

Nus menuruti permintaan itu. Ia ternyata ditemui Roy, kepala keamanan Blowfish, yang didampingi lima anggotanya. Albert, yang terlibat keributan malam sebelumnya, datang. “Teman Roy langsung menghajarnya,” kata Nus. Teman-teman Roy di dekat pintu ikut pula menyerang. Tapi Clement, salah satu tokoh Flores, membantah akhir cerita ini. Menurut dia, justru Roy yang menyelamatkan Nus dari baku hantam tadi. Melalui pintu belakang, Nus dibawa keluar bersama pengunjung lain.

Para penjaga Blowfish sudah mengantisipasi keadaan setelah bentrokan Jumat malam itu. Muhammad Sarip alias Mat, petugas keamanan, menghubungi Kanor Lolo, pemuda asal Flores Ende. Ketika menerima telepon, Kanor sedang berada di rumah kontrakannya di sekitar Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kepada polisi, Kanor mengatakan bahwa dia diminta Mat datang ke Blowfish. Mat merasa terancam setelah peristiwa Jumat malam. Naik taksi, Kanor berangkat bersama rekannya, Bernadus Malelak, David Too, dan Rando Rili.

Sampai di Blowfish sekitar pukul 23.30, mereka diminta Mat berjaga di lobi. Sejam kemudian, Kanor melihat cekcok Roy, Nus, dan Albert. Tiba-tiba lampu mati dan perkelahian meledak. Empat orang ini masuk melalui pintu keluar. “Saya mengambil besi pembatas jalur dan memukul Yoppie Ingrat Tuban tiga kali,” kata Kanor kepada polisi pada 21 Juli 2010. Yoppie adalah anggota rombongan kelompok Kei.

Dalam pemeriksaan polisi, Bernadus mengatakan, dalam situasi gelap, dia mengambil besi. Ia memukul orang yang hendak menyerangnya. Ia lalu menggunakan parang yang tergeletak di lantai untuk membacok lawan. M. Soleh dari kelompok Kei tewas dalam perkelahian itu. Yoppie, yang mengalami banyak luka bacok, dilarikan ke Rumah Sakit Medistra. Dua pekan kemudian dia pun tewas.

Seorang tetua Flores yang menguasai wilayah selatan Jakarta menyatakan, kedua kelompok berebut bisnis pemasok keperluan pub atau restoran, antara lain minuman keras. Sumber Tempo di kepolisian mengatakan, kelompok-kelompok ini juga bersaing memasarkan narkotik. “Ngapain bunuh-bunuhan kalau cuma berebut bisnis pengamanan,” katanya. Menurut seorang perwira polisi, pusat perebutan pengaruh itu melibatkan Thalib Makarim dan John “Kei” Refra. Thalib adalah tokoh muda Flores yang sedang naik daun. Ia menguasai banyak tempat hiburan, termasuk Blowfish, Puro, dan DragonFly.

Sedangkan John, yang dianggap salah satu pemimpin Kei, bergerak di wilayah yang sama. Dia juga ingin menguasai jasa pengamanan. Agar berhasil, John berusaha masuk lingkaran dalam seorang pengusaha yang dikenal dekat dengan dunia gelap. Di sini Thalib kabarnya berada di atas angin, karena lebih dulu masuk ring dalam pengusaha yang sama.

Nus mengatakan, banyak penjaga keamanan Blowfish dari Flores Ende. Pemimpinnya Thalib. Namun dia membantah bila dikatakan bahwa pertengkaran itu dilakukan demi merebut bisnis orang. Adik John, Tito Refra, pun menyangkal. “Kita paling pantang jadi satpam, gengsi kita tinggi,” katanya. Ia mengatakan, teman-temannya merasa terinjak harga dirinya dengan peristiwa di Blowfish. Thalib dan John tak bersedia bersuara. Surat dan telepon permintaan wawancara Tempo tak mereka tanggapi.

Setelah keributan berdarah itu, empat orang diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Mereka adalah Kanor Lolo, Bernadus Malelak, David Too, dan Rando Rili. Kelompok Kei, termasuk Tito, selalu mendatangi persidangan mereka.

Dalam sidang pada pertengahan September 2010, anggota kelompok Kei memukul Kanor Lolo dan Bernadus Malelak. Menurut Nus, kawan-kawannya tidak puas karena terdakwa bukan orang yang membunuh Soleh dan Yoppie Ingrat. “Mereka dikorbanin untuk jadi tersangka,” kata Nus.

Sepekan kemudian, teman-teman Kanor dan Bernadus menuntut balas. Menumpang bus mini, puluhan lelaki Flores turun ke pengadilan. Mereka menenteng golok, pedang, dan senjata lain. Bentrok antara mereka dan kelompok Kei pecah di terik matahari. Sekitar 300 polisi yang berjaga tak banyak berbuat.

Dalam perkelahian sekitar satu jam ini, terdengar letusan senjata api. Satu tembakan mengenai dada Tito Kei. Kelompok Kei membalas serangan. Korban berjatuhan. Agustinus Tomas dan Frederik Pilo Let Let dari kelompok Maluku tewas.

Ditemui pada pertengahan bulan lalu, Tito membanggakan luka tembak di dada kirinya. Ia mengatakan terhindar dari maut berkat ajimat yang ia miliki. Katanya, “Peluru hanya tiga milimeter dari jantung saya.”


http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135106.id.html
Read more >>

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?





Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA.
>(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html)

TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga."

Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semarang, Parung, Ciputat, dan Pamulang.

Wafat pada akhir 2008, Baharudin meninggalkan banyak warisan buat keluarganya, antara lain aset delapan koperasi berbadan hukum, yang cabangnya tersebar di sejumlah kota. Pengadilan Agama Jakarta Timur pun menetapkan istri dan empat anak Baharudin sebagai ahli waris. Konflik keluarga berawal ketika Masthahari, adik Baharudin, menuntut hak waris.

Masthahari menyewa jasa pengamanan dari Umar Kei, 33 tahun, pemuda dari Kei, Maluku. Tak mau kalah, Burhanuddin meminta pengawalan Alfredo Monteiro dan Logo Vallenberg dari kelompok Timor. Di lapangan, merekalah yang berhadapan.

Serangan itu datang pagi-pagi. Lima orang datang ke kantor Koperasi Bosar Jaya. "Kami dari Koperasi Mekar Jaya ingin mengambil alih kantor," kata Jamal, seorang penyerang. Tak lama kemudian datang Umar Kei, yang meminta Logo dan kelompoknya meninggalkan kantor. Ditolak, Umar memanggil anak buahnya yang datang dengan enam mobil. Menurut Logo, mereka bersenjata golok dan pedang samurai. Umar memerintahkan anak buahnya menyerang.

Para penyerang menyabet Logo. "Anak buah saya tak bersenjata," kata Logo. Bentrokan tak berlanjut karena petugas kompleks pertokoan itu telah datang. Belakangan Logo tahu, Umar bekerja dengan bendera Lembaga Bantuan Hukum Laskar Merah Putih. "Mereka mengatasnamakan koperasi simpan-pinjam Mekar Jaya," katanya.

Kepada Tempo, Umar mengatakan, dia datang untuk mengajak berunding. Ia meminta Logo dan teman-temannya meninggalkan kantor karena sengketa keluarga itu ditangani pengadilan. Sebelum menghadapi Logo, Umar mengatakan bahwa gengnya sudah lebih dulu berhadapan dengan anggota Brimob, kelompok Banten, Forum Betawi Rempug, dan kelompok Ongen Sangaji yang disewa Burhanuddin Harahap. "Mereka mundur menghadapi kelompok saya," katanya.

Sengketa waris pun menjadi pertikaian berdarah.

l l l

KELOMPOK Umar Kei dan kelompok Alfredo-Logo terhubung dalam usaha jasa pengamanan. Di ceruk "bisnis kekerasan" ini, ada pemain lain semacam Kembang Latar pimpinan Bahyudin, Petir di bawah komando Alo Maumere, Forum Betawi Rempug yang dipimpin Lutfi Hakim, Badan Pembina Potensi Keluarga Besar Banten pimpinan Dudung Sugriwa, dan Pemuda Pancasila.

"Subsektor" bisnis ini merentang dari penagihan utang, jasa penjagaan lahan sengketa, pengelolaan jasa parkir, sampai pengamanan tempat hiburan dan perkantoran di Ibu Kota. Usaha pengamanan kantor antara lain dipilih Abraham Lunggana alias Lulung, 50 tahun. Mendirikan perusahaan PT Putraja Perkasa pada awal 2000, ia masuk jasa pengelolaan parkir dan pengamanan. Putraja memiliki anak perusahaan, PT Sacom. Abraham mengklaim mempekerjakan sekitar 4.000 orang. "Dulu sempat lebih besar dari itu," kata dia.

Anak buah Lulung menangani pengamanan Blok F, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, tempat para pedagang kelontong. Ia mengambil alih "kekuasaan" yang sebelumnya dipegang oleh seorang jawara bernama Muhammad Yusuf Muhi alias Bang Ucu Kambing, 62 tahun. Ucu dulu menyingkirkan penguasa sebelumnya, Rosario Marshal alias Hercules, seorang pemuda asal Timor Timur. Perusahaan Lulung juga mengelola perparkiran di sejumlah kantor, termasuk Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan (lihat "Pemburu Utang, Penjaga Parkir").

Persaingan antarkelompok sering sangat keras dan bisa diakhiri dengan pertumpahan darah. Akhir September lalu, dua kelompok berhadapan di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Jalan Ampera. Mereka menghadiri sidang bentrok berdarah, yang melibatkan sejumlah pemuda Kei dengan penjaga keamanan Blowfish Kitchen and Bar, Gedung Menara Mulia, Jakarta Selatan. (lihat "Dari Blowfish ke Ampera").

Menurut Agrafinus Rumatora, 42 tahun, dari kelompok Kei, penjaga keamanan Blowfish dipegang kelompok Flores Ende pimpinan Thalib Makarim. Perkelahian pada April lalu itu menewaskan dua pemuda Kei, yakni Yoppie Ingrat Tubun dan M. Soleh. Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menghadirkan terdakwa pelaku pembunuhan dua orang itu. Ternyata sidang ini menyulut pertikaian lebih besar. Tiga orang dari kelompok Kei tewas, puluhan lainnya luka-luka. Seorang sopir bus pengangkut kelompok ini menjadi korban.

Daud Kei, Wakil Ketua Angkatan Muda Kei (AMKei), menganggap pertikaian dua kelompok itu lebih besar. Daud, 38 tahun, tangan kanan John Kei, ketua organisasi itu, mengatakan, "Ini bukan antara Kei dan Flores, tapi antara Maluku dan Flores Ende. Jangan salah tulis," katanya.

Setelah bentrokan di Ampera, Alfredo Monteiro dan Logo diperiksa polisi. Alfredo mengatakan bahwa polisi menduga ia dan Logo berkaitan dengan Thalib Makarim. Logo memang pernah bekerja untuk Thalib. "Cuma dua bulan," katanya. Polisi lalu menangkap enam tersangka, semuanya dari kelompok Flores Ende. "Bagaimana mungkin tidak ada tersangka satu pun dari mereka (kelompok Kei)?" kata Zakaria "Sabon" Kleden, 66 tahun, tokoh yang sangat dihormati di kalangan kelompok etnis.

l l l

PERALIHAN penguasa bisnis jagoan di Ibu Kota bukanlah suksesi yang mulus. Pada 1990-an, area ini dikuasai Hercules. Ia semula pemuda Timor yang direkrut Komando Pasukan Khusus, atau Kopassus, pada saat proses integrasi wilayah itu ke Indonesia. Terluka dalam kecelakaan helikopter, ia dibawa Gatot Purwanto, perwira pasukan yang dipecat dengan pangkat kolonel setelah insiden Santa Cruz, ke Jakarta.

Hercules menetap di Jakarta, dan segera merajai dunia para jagoan. Ia menguasai Tanah Abang. Namanya pun selalu dekat dengan kekerasan. Kekuasaan tak abadi. Pada 1996, ia tak mampu mempertahankan kekuasaannya di pasar terbesar se-Asia Tenggara itu. Kelompoknya dikalahkan dalam pertikaian dengan kelompok Betawi pimpinan Bang Ucu Kambing, kini 64 tahun.

Sejak itu ia tak lagi berkuasa. Tapi namanya telanjur menjadi ikon. Seorang perwira polisi mengatakan, setiap pergantian kepala kepolisian, Hercules selalu dijadikan "sasaran utama pemberantasan preman".

Pada masa kejayaan Hercules, ada Yorrys Raweyai. Pada awal 1980-an, ia bekerja menjadi penagih utang. Kekuatan pemuda asal Papua ini ditopang Pemuda Pancasila, organisasi yang mayoritas anggotanya anak-anak tentara. Dia menjadi ketua umum organisasi itu pada 2000 dan melompatkan kariernya di politik. Dia kini anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Golkar.

Pemuda Pancasila juga menjual jasa pengamanan lahan, penagihan, dan penjaga keamanan. Ordernya diterima dari perusahaan resmi yang memiliki jaringan dengan Pemuda Pancasila. "Habis, mau kerja apa, mereka tidak punya ijazah," Yorrys menunjuk anggota kelompoknya. Soal cap preman, dia berkomentar enteng, "Saya anggap koreksi saja."

Pada generasi yang sama, Lulung, bekas preman Tanah Abang, kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta dari Partai Persatuan Pembangunan. Usahanya dimulai dari pengumpul sampah kardus bekas hingga barang bekas. "Karier"-nya mencorong ketika kemudian bermain dalam usaha pengamanan Tanah Abang.

Untuk melestarikan kekuatan, Lulung memilih jalur resmi. Ia mendirikan PT Putraja Perkasa, lalu PT Tujuh Fajar Gemilang, dan PT Satu Komando Nusantara. Perusahaan ini disesuaikan dengan "kompetensi inti" Lulung: jasa keamanan, perparkiran, penagihan utang. "Kami masuk lewat tender resmi," ujarnya.

Pada 1996, ketika Hercules berhadapan dengan Bang Ucu, Lulung memilih "berkolaborasi" dengan kelompok Timor. Alhasil, ia dikejar-kejar teman-temannya di Betawi. Bang Ucu menyelamatkannya. Itu sebabnya, kini Lulung rajin menyetor dana ke Ucu.

Dari Nusa Tenggara Timur ada nama Zakaria "Sabon" Kleden. Mendarat di Betawi pada 1961, Zaka-begitu dia disapa-mengatakan menjadi preman pertama asal daerahnya. "Dulu istilahnya geng. Ada geng Berland, Santana, dan Legos," tuturnya kepada Tempo.

Riwayat Zaka tak kalah berdarah. Ia mengaku sempat memutilasi korbannya. Ia juga mengatakan telah menembak mati beberapa orang. "Saya membela harga diri saya," ujarnya. Tapi ia mengatakan tak pernah dinyatakan bersalah. "Saya sering ditahan, tapi tidak pernah dihukum penjara," kata pria yang sangat dihormati kelompok preman terutama dari daerah Nusa Tenggara Timur itu. Tiga tahun lalu, Zaka menjalankan bisnis sekuriti, PT Sagas Putra Bangsa.

Dari eranya, Zaka menyebutkan nama ketua geng seperti Chris Berland, Ongky Pieter, Patrick Mustamu dari Ambon, Matt Sanger dari Manado, Jonni Sembiring dari Sumatera, Pak Ukar dan Rozali dari Banten, Effendi Talo dari Makassar. "Komunikasi di antara kami baik, maka jarang bentrok berdarah," tuturnya.

Pada awal 2000, muncul Basri Sangaji. Tapi dia terbunuh dalam penyerangan berdarah di Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan. "Bisnis"-nya diteruskan anggota keluarga Sangaji: Jamal dan Ongen. Ongen kini mantap dengan karier politiknya, menjabat Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Hanura Jakarta. "Target saya ketua Dewan Pimpinan Pusat," ujarnya.

Menjelang 1980-an kelompok-kelompok preman etnis juga membentuk organisasi massa. Dimulai dari Prems-kependekan dari Preman Sadar-pimpinan Edo Mempor. Tetap saja, bisnis mereka penagihan, perpakiran, dan jaga tanah sengketa. "Ini awal mulanya preman berbalut ormas," kata seorang mantan serdadu yang kini jadi preman.

Kelompok itu berdiri hingga kini. Ada Angkatan Muda Kei, Kembang Latar, Petir, Forum Betawi Rempug, Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi), Badan Pembina Potensi Keluarga Besar Banten, juga Angkatan Muda Kei.

l l l

SETELAH bentrok berdarah di Ampera, nama Thalib Makarim muncul ke permukaan. Para pesaingnya menyebut dia menyediakan pengamanan klub hiburan malam, seperti Blowfish, DragonFly, X2, dan Vertigo. Thalib resminya seorang pengacara. Dia pernah mendampingi artis kakak-adik Zaskia Adya Mecca dan Tasya Nur Medina, yang diculik oleh Novan Andre Paul Neloe. Ia juga menjadi anggota tim pengacara pengusaha Tomy Winata, ketika menggugat majalah Tempo pada 2005.

Thalib tercatat bekerja untuk kantor pengacara Victor B. Laiskodat & Associates di Melawai, Jakarta Selatan. Tapi, ketika Tempo mendatangi kantor ini, ia tak lagi bekerja di sana. "Lima tahun lalu sudah keluar," kata Mie Gebu, staf kantor ini. Beberapa orang yang berjanji bisa menghubungkan dia dengan Tempo juga gagal menemukannya. Ia juga tak pernah memenuhi panggilan polisi, yang menangani kasus Ampera.

Sumber Tempo di kalangan preman menyebutkan, Thalib merupakan pengganti Basri Sangaji. Ia menguasai tempat-tempat hiburan elite di Jakarta Selatan. "Termasuk lingkungan pasar Blok M-Melawai," katanya.

Adapun kelompok John Kei, menurut salah satu pentolannya, Agrafinus, berfokus pada jasa penagihan dan pengacara. Kelompok ini tidak masuk ke bisnis pengamanan tempat hiburan, perparkiran, ataupun pembebasan tanah. "Level kami bukan kelas recehan seperti itu," katanya. Sebab itulah, Daud Kei membantah tuduhan pertikaian di Blowfish dan Ampera dilatari perebutan lahan bisnis. "Kami etnis Maluku tidak ada bisnis penjagaan tempat hiburan," dia menegaskan.

Namun, menurut seorang preman senior, pertikaian antarkelompok separah itu umumnya karena berebut suplai atau meminta jatah. Sebab, perputaran uang di tempat-tempat dugem (dunia gemerlap) itu luar biasa besar. "Bayangin aja, dari suplai tisu, snack, minuman, sampai narkoba ada," tuturnya.

Berbeda dengan John Kei, Umar Kei meluaskan bisnisnya ke pembebasan tanah, termasuk penjagaannya. Di lahan ini juga bermain Forum Betawi Rempug dan Badan Pembina Potensi Keluarga Besar Banten. Adapun perparkiran umumnya dipegang ormas lokal Betawi atau Banten, contohnya Haji Lulung.

Dari semua bisnis yang dilakoni kelompok etnis itu, sumber Tempo menuturkan, penghasilan terbesar ada di proyek pembebasan tanah. "Nilainya setara dengan uang jajan setahun," katanya. Mereka biasa menyebut penghasilan ini sebagai "jatah preman", yang dipelesetkan menjadi "jatah reman". Di tingkat kedua, penjagaan tempat hiburan malam. Kali ini jatahnya dipakai untuk "uang jajan sebulan". Sedangkan bisnis perpakiran menghasilkan jatah reman berupa "uang jajan harian".

Tak mengherankan bila dunia para jagoan ini sering diwarnai pertikaian, bahkan sampai berdarah-darah.

Sejarah Preman Jakarta

29 September 2010
Bentrokan antara kelompok Maluku (Kei) dan Flores (Thalib Makarim) ketika sidang kasus Blowfish di Jalan Ampera, di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Korban tewas dari kelompok Maluku: Frederik Philo Let Let, 29 tahun, Agustinus Tomas (49), dan seorang sopir Kopaja Syaifudin (48).

31 Juli 2010
Bentrokan Forum Betawi Rempug (FBR) dengan Pemuda Pancasila, Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi), dan Komunikasi Masyarakat Membangun Lapisan Terbawah (Kembang Latar) di Rempoa, Ciputat.

30 Mei 2010
Bentrokan antara massa Forkabi dan warga Madura di Duri Kosambi, Cengkareng. Ketua Forkabi Cipondoh Endid Mawardi tewas dibacok.

12 April 2010
Koordinator keamanan Koperasi Bosar Jaya, Logo Vallenberg, dikeroyok kelompok Umar Kei. Penyebabnya sengketa warisan antarkeluarga pemilik koperasi.

4 April 2010
Bentrokan di Klub Blowfish, Wisma Mulia, Jakarta, menewaskan dua orang dari kelompok Kei, M. Sholeh dan Yoppie Ingrat Tubun. Klub Blowfish dijaga kelompok Flores Ende pimpinan Tha-lib Makarim.

14 Desember 2009
Mantan karyawan PT Maritim Timur Jaya, Susandi alias Aan, dipukul dan ditendang di bagian kepala dan dada oleh Viktor Laiskodat, pemimpin Artha Graha Group.

11 Agustus 2008
John Kei, pemuda Ambon, ditangkap Densus Antiteror 88 Kepolisian Daerah Maluku di Desa Ohoijang, Kota Tual. Dia diduga kuat terlibat penganiayaan terhadap dua warga Tual, Charles Refra dan Remi Refra, yang menyebabkan jari kedua pemuda itu putus.

1 Juni 2008
Bentrokan Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Markas Besar Kepolisian RI menetapkan lima anggota FPI sebagai tersangka dalam pengeroyok-an dan pemukulan terhadap anggota Aliansi.

27 April 2006
Ratusan anggota FBR mendatangi rumah artis Inul Daratista, menuntut Inul meminta maaf atas tindakannya menggelar demonstrasi menolak Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi di Hotel Indonesia.

3 Februari 2006
Massa FPI mengamuk di depan kantor Kedutaan Besar Denmark, Menara Rajawali, terkait dengan pemuatan kartun Nabi Muhammad SAW di koran Denmark, Jyllands-Posten.

19 Desember 2005
Hercules bersama 17 anak buahnya menyerang kantor Indopos, Jakarta Barat, karena keberatan atas artikel berjudul ?Reformasi Preman Tanah Abang, Hercules Kini Jadi Santun". Dia divonis hukuman penjara 2 bulan.

18 Juni 2005
Kelompok Maluku mengamuk dan merusak kantor pemasaran Perumahan Taman Permata Buana, Jakarta Barat. Mereka mengaku mewakili Aminah binti Ilyas, pemilik tanah yang sedang bersengketa dengan pengembang.

8 Juni 2005
Keributan antara kelompok Basri Sangaji dan John Kei saat sidang kasus pemukulan di Diskotek Stadium, Jakarta Barat. Kakak kandung John Kei, Walterus Refra Kei alias Semmy Kei, terbunuh di lahan parkir Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Tindakan ini merupakan balas dendam atas pembunuhan Basri Sangaji dan bentrokan di Diskotek Stadium.

29 Mei 2005
Persatuan Pendekar Banten bentrok dengan Forkabi. Jahuri, 44 tahun, warga Cilampang, Banten, tewas, ditemukan di Gedung Serbaguna Perumahan Permata Buana. Bentrokan dipicu sengketa tanah.

1 Maret 2005
Ratusan orang bersenjata parang, panah, pedang, dan celurit berhadapan di Jalan Ampera, Jakarta Selatan, di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, ketika sidang pembunuhan Basri Sangaji.

16 Februari 2005
Bentrokan antara petugas Tramtib DKI dan kelompok Hercules yang menjaga lahan kosong di Jalan H.R. Rasuna Said Blok 10-I Kaveling 5-7, Jakarta Selatan. Adik Hercules, Albert Nego Kaseh alias John Albert, mati tertembak senjata Kasi Operasi Satpol Pamong Praja DKI Jakarta, Chrisman Siregar.

12 Oktober 2004
Basri Sangaji tewas diserang sepuluh preman dari kelompok John Kei di kamar 301 Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan.

2 Maret 2004
Bentrokan antara kelompok Basri Sangaji dan John Kei di Diskotek Stadium di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat. Saat itu kelompok Basri menjaga diskotek dan diserang puluhan orang Kei. Dua penjaga keamanan dari kelompok Basri tewas.

7 Mei 2003
Bentrokan kubu Hercules dan Basri Sangaji di Kemang, Jakarta Selatan. Pertikaian menyebabkan Samsi Tuasah tewas akibat luka tembak di paha dan dada.

8 Maret 2003
David A. Miauw dan rekan, anak buah Tomy Winata, menye-rang dan melakukan pemukulan terhadap tiga wartawan majalah Tempo. Tomy berkeberatan atas artikel Tempo edisi Senin, 3 Maret 2003, berjudul "Ada Tomy di Tenabang?" Kasus ini dibawa ke pengadilan.

28 Maret 2002
Tujuh anggota FBR menganiaya anggota Urban Poor Consortium pimpinan Wardah Hafidz di kantor Komnas HAM, Menteng.

12 Desember 1998 dan 15 Januari 1999
Kerusuhan antara kelompok Ambon muslim dan Kristen dipicu peristiwa Ketapang. Kerusuhan Ambon ditengarai akibat provokasi beberapa kelompok preman.

22-23 November 1998
Kerusuhan antara Ambon muslim dan Kristen di daerah Ketapang, Jakarta Pusat. Baku hantam dipicu terbunuhnya empat pemuda muslim pada kerusuhan Semanggi, menjelang Sidang Istimewa MPR.

29 Mei 1997
Dedy Hamdun, preman asal Ambon beragama Islam, diculik lalu hilang hingga kini. Suami artis Eva Arnaz ini bekerja membebaskan tanah bagi bisnis properti Ibnu Hartomo, adik ipar bekas presiden Soeharto. Sebelum hilang, Dedy aktif mendukung Partai Persatuan Pembangunan.

1996
Perang antara kelompok Betawi dan Timor pimpinan Hercules. Kelompok Timor hengkang dari Tanah Abang.

Laskar Jalanan

29 Juli 2001
FBR didirikan oleh KH Fadloli el-Muhir (almarhum) dengan jumlah pengikut saat pendirian 400 ribu orang.

18 April 2001
Forkabi dideklarasikan di Kramat Sentiong, Jakarta Pusat.

10 Oktober 2000
Kelompok Laskar Merah Putih pimpinan Eddy Hartawan (almarhum). Kelompok pemuda ini pernah menjadi tenaga pengawal mendampingi Manohara Odelia Pinot.

Mei 2000
Angkatan Muda Kei (AmKei) didirikan oleh keluarga Kei dengan ketua John Refra atau John Kei. Organisasi terbentuk pascakerusuhan Tual, Maluku, pada Maret 1999. Kelompok ini mengklaim memiliki 12 ribu pengikut.

17 Agustus 1998
FPI didirikan oleh Muhammad Rizieq bin Husein Syihab di Jalan Petamburan III Nomor 83, Jakarta Pusat. Beberapa jenderal TNI dan Polri mendukung pendirian FPI, di antaranya mantan Kepala Polda Metro Jaya Komisaris Jenderal Nugroho Jayusman.

1998
Warga Betawi Tanah Abang mendirikan Ikatan Keluarga Besar Tanah Abang dan memilih jawara Tanah Abang, Muhammad Yusuf Muhi alias Bang Ucu Kambing, sebagai ketua umum hingga sekarang.

Masa Orde Baru:
Tumbuh organisasi pemuda, seperti Pemuda Pancasila, Pemuda Panca Marga, Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia, Yayasan Bina Kemanusiaan, dan belakangan organisasi Kembang Latar. Selain berbendera organisasi kepemudaan, ada kelompok informal yang sangat populer, seperti Siliwangi, Berland, Santana, dan Legos. Kelompok ini menjalankan usaha keamanan tempat hiburan serta sengketa lahan dan tempat parkir wilayah Jakarta Selatan.

Petrus
Pemerintah Orde Baru menekan kelompok preman dengan operasi rahasia "penembakan misterius" atau petrus. Investigasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan mencatat korban tewas petrus pada 1983 sekitar 532 orang, dan sepanjang 1984 dan 1985 sebanyak 181 orang.

Read more >>

Friday, February 17, 2012

Jeremy Lin pengganti Yao Ming




Jeremy Lin, itulah nama yang segera bisa menghapus nama bintang Yao Ming sebagai pebasket Asia terkenal di dunia. Banyak media menyebut fenomena Jeremy Lin sebagai demam Linsanity.

Di Amerika Serikat, warga keturunan Asia bahkan mulai menjadikan Lin sebagai ikon karena Yao Ming kini tak lagi bermain di Houston Rockets dan cedera yang membuatnya tak bisa tampil maksimal.

Kehadiran Lin membuat D'Antoni dan Knicks meraup tujuh kemenangan beruntun di Liga Basket Nasional Amerika Serikat (NBA). Saat mengalahkan Sacremento Kings 100-85 (Rabu 15/2), Lin mencetak 10 poin, 5 rebound dan 13 assist.

Lin menjadi idola ketika saat Knicks menang dramatis 90-87 atas Toronto Raptors. Dia menjadi penentu kemenangan saat detik terakhir dengan tembakan 3 angka di akhir kuarter keempat. Total saat itu dia mencetak 27 poin dan 11 umpan.

Lin, kehadiran 23 Agustus 1988, putra dari pasangan imigran Taiwan Gie Ming dan Shirley yang pindah ke Amerika Serikat pada pertengahan 1970. Di awal karier, Lin muda sebenarnya ingin bermain untuk Standford University tetapi dia ditolak dan tak menerima beasiswa.

Kisah sukses dirajut Lin ketika Harvard University menerimanya karena nilai ujian akhir sekolahnya yang tinggi 4,2. Beasiswa diraihnya sekaligus bisa memperkuat tim basket Varvard University. Bakat itu memang tak bisa dinafikan.

Dia lulus Fakultas Ekonomi Harvard University dengan indeks prestasi kumulatif 3,1 pada 2010 dan langsung mengikuti mini camp Dallas Maverick. Kemudian dia masuk ke Golden State Warriors, lalu Reno Bighorns (D-League), sempat bermain sebentar di Dongguan Leopards (Liga China) sebelum akhirnya ditarik Mike D'Antoni ke Madison Square Garden.

Lin juga dikenal dengan kedermawanannya karena kesuksesan dirinya diikuti pendirian Yayasan Lin yang membantu para imigran di AS. Maklum saja, Lin merasa faktor rasial kadang membuat banyak orang menjadi frustasi dalam berkarya.

"Banyak yang bilang kalau saya berkulit putih atau keturunan Afrika, karier basket saya akan lebih bagus. Saya ingin mematahkan pemikiran itu," ujarnya seperti dilansir sejumlah situs berita asing.

Ya, Jeremy Lin dengan Linsanity-nya membuat orang angkat topi dan berkata "Yellow man can jump!"


Read more >>

Thursday, February 9, 2012

Ini alasan XL Axiata akan hentikan produk "Internet Unlimited"


PT XL Axiata menyatakan akan menghentikan layanan internet tidak terbatas atau unlimited secara bertahap karena dinilai tidak terlalu menguntungkan.

Hasnul Suhaimi, Direktur Utama XL Axiata, mengatakan konsep internet unlimited telah menyebabkan sebagian besar bandwith internet digunakan oleh sebagian kecil pelanggan.

"Internet unlimited akan kami ubah dan tidak akan dijual lagi di masa depan. Karena 3% pelanggan menggunakan bandwith 40% dari total perbulan," ujarnya Rabu,8 Februari 2012.

Sebagai gantinya, lanjut dia, XL akan mengembangkan layanan internet dengan volume based dengan harga yang lebih murah. "Jadi setiap orang akan bayar sebanyak pemakaian," ujarnya.

Dia juga menambahkan perseroan akan meningkatkan layanan data pada tahun ini dan menghentikan perang tarif pada bisnis suara (voice) dan pesan singkat (short message service/sms).

"Strategi perang tarif ternyata sudah tidak elastis lagi, karena penurunan tarif ternyata tidak meningkatkan pendapatan pada voice dan sms pada tahun lalu," ujarnya.

Dia menjelaskan kontribusi bisnis suara terhadap total pendapatan turun 7% pada tahun lalu. Pada akhir 2010 kontribusi suara mencapai 59% dan turun menjadi 52% pada akhir

Adapun, kontribusi data dan value added service meningkat dari 17% pada 2010 menjadi 22% pada akhir tahun lalu. Lebih dari 50% dari total 46,4 juta customer XL merupakan pengguna layanan data.

Pada tahun lalu layanan data XL mencapai 10.856 terabyte (TB) per tahun atau sekitar 70 TB perhari. Penggunaan data melonjak drastis sejak 2008, yang tercatat baru 56 TB selama setahun.

Hasnul menambahkan perseroan akan meningkatkan layanan data pada tahun ini guna menghadapi perkembangan gadget dan smartphone yang makin membutuhkan fasilitas internet.

Dengan perkembangan smartphone, layanan data akan berkembang 24 kali dari saat ini. Adapun smartphone berbasis pemainan (game) akan meningkat 60 kali, tablet sebesar 155 kali dan laptop 515 kali. "Kalau sekarang hanya dipakai browsing maka penggunaan hanya 20 kbps, tapi kalau sudah pindah ke video seperti youtube maka maka membutuhkan 512 kbps.

Untuk merealisasikan peningkatan layanan data, XL akan menambah 4000 BTS baru pada tahun ini, khusus untuk 3G. Adapun rencana penambahan BTS pada tahun ini sekitar 6.000 unit.

Penambahan BTS tersebut merupakan bagian dari rencana realisasi belanja modal pada tahun ini yang mencapai Rp7 triliun--Rp8 triliun

Wim Timmerman, Chief Operating Office XL Axiata, mengatakan peningkatan layanan data tersebut akan dibarengi dengan peningkatan akses pelanggan terhadap kestabilan akses internet. Dia mengakui selama ini akses internet XL masih mengalami kendala di beberapa kota.

"Kami akan benahi secara bertahap di beberapa kota yang masih ada masalah dalam internet, seperti Kalimantan, Bali dan Sulawesi,"

Dato' Sri Jamaludin Ibrahim, CEO Axiata Group Berhad, mengatakan peningkatan layanan data juga merupakan fokus anak usaha lainnya.

"Bagi Axiata, 2012 merupakan tahun penting bagi perkembangan layanan data," ujarnya.

Khusus di Indonesia, dia melihat bisnis data masih sangat menjanjikan dalam pendapatan karena saat ini penggunan smartphone masih sekitar 5% dan berpeluang untuk meningkat tinggi pada tahun ini.

"Kami melihat masyarakat Indonesia cukup konsumtif. Tidak hanya data, tapi mereka juga menggunakan layanan aplikasi dan VAS," ujarnya.


(please see bisnis.com)
Read more >>

Monday, February 6, 2012

Pesepakbola juga bisa pailit n bangkrut

Dunia sempat terkejut ketika tahu Eastman Kodak Corporation, perusahaan pelopor film fotografi dinyatakan pailit. Apa yang membuat kebangkrutan perusahaan raksasa tersebut?

Banyak sebab, tetapi pada masa perubahan yang begitu cepat, Kodak dinilai banyak pengamat terlalu cepat puas dengan hasil riset dan tak berani mengembangkan produk-produk teknologi baru seperti IBM dan Xerox Corp.

Cerita pailit dan bangkrut bisa terjadi kepada siapa saja dan di mana saja. Di sepak bola, kebangkrutan juga terjadi kepada para pemain bintang, seperti roda kehidupan yang menurun setelah mencapai titik kulminasi atas.

Anda kenal Lee Andrew Hendrie yang beken disapa LEE HENDRY? Para penikmat sepak bola Inggris setidaknya cukup akrab dengan pemain tengah yang lincah itu.

Pemain berusia 34 tahun itu pada pekan lalu dinyatakan berstatus pailit dan bangkrut dengan nilai utang sekitar 200.000 pounds. Pengajuan status bangkrut ini diajukan oleh HM Revenue and Customs pada 19 Desember 2011 dan ditetapkan oleh Pengadilan Tinggi London pada 28 Januari 2012.

Lee Hendrie merupakan mantan bintang Aston Villa selama 1995-2007 dengan 251 game dan 27 gol yang menghasilkan 2 trofi Piala Liga. Untuk timnas Three Lions Inggris, Hendrie mencatatkan 1 cap pada 1998 ketika dia masuk menggantikan Paul Merson.

Selama 2007-2010, Hendrie masih laku sebagai pemain pinjaman di Sheffield United, Leicester City, Blackpool, Derby County, Brighton & Hove ALbion dan Bradford City.

Awal 2011, Lee Hendrie sempat bikin geger Indonesia ketika bergabung dengan Bandung FC di Liga Primer Indonesia. Dia bahkan menjadi pemain asing dengan bayaran termahal sekaligus eks Premiere League pertama yang bermain di Indonesia.

Selama nyaris 6 bulan, dia digaji Bandung FC sebesar US$550.000 atau sekitar Rp4,95 miliar untuk menghibur para bobotoh di Kota Kembang Bandung.

Paruh kedua 2011, Hendrie masih sempat bermain untuk Daventry Town, lalu Kidderminster Harriers yang berada di liga Conference National, kompetisi yang berada empat tingkat di bawah Premiere League.

Kebiasaan berutang dan hidup mewah menjelang akhir keemasan karier membuat Lee Hendrie terjerat utang yang membesar.

Dampaknya Lee Hendrie mau tak mau harus menjual mansion-nya senilai 1,7 juta pound yang terletak di Rowington, Warwickshire Inggris untuk membayar utangnya yang kini menjadi tanggungan kurator yang ditunjuk pengadilan.

Lee Hendrie seakan mengulangi sejarah kelam pesepakbola yang bangkrut di ujung kariernya. Fans sepak bola tentu kenal George Best, pemain Irlandia Utara yang menjadi maha bintang di Manchester United (MU) selama 1963-1974.

George Best mungkin adalah raja MU yang paling dicintai, di atas Fergie Babes (didikan Sir Alex Ferguson) seperti Eric Cantona, David Beckham, Cristiano Ronaldo dan bahkan Wayne Rooney. Best membela MU selama 361 pertandingan dengan 137 gol.

Best mengantarkan MU juara Piala Champions pertama pada 1968 dan membuatnya meraih Ballon d'Or tahun itu dan sejumlah penghargaan lainnya termasuk masuk daftar Hall of Fame pemain terbaik sepanjang masa di Eropa.

Dia bermain sepak bola selama lebih dari 21 tahun dan sempat berlabuh di klub di Afrika Selatan dan Amerika Serikat. Namun, dia menghabiskan pendapatan selama kariernya sebesar US$100 juta sebagai seorang alkoholik, mobil mewah dan wanita. Dampaknya, kebangkrutan dan status pailit pun menjadi bagian dari sejarah sang legenda tersebut.

Tak hanya para pemain, klub sepak bola juga tak lepas dari intaian bangkrut dan jeratan pailit. Pada Desember 2011, klub sepak bola Swiss, Neuchatel Xamax mengajukan status pailit ke pengadilan agar tak dikejar-kejar bayaran utang.

Situasi keuangan yang parah sebenarnya terjadi sejak lama dan puncaknya ketika manajemen klub beralih ke pemilik baru. Pengusaha asal Chechnya, Bulat Chagaev membeli Xamax pada Mei 2011 dari Bernasconi Sylvio, dengan nilai 1,2 juta franc Swiss.

Namun kondisi ternyata makin parah karena Chagaev gagal untuk membayar pemainnya selama beberapa bulan dan tidak membayar pajak gaji.

Federasi sepak bola Swiss SFL pun memberikan sanksi denda dan pengurangan poin kepada Xamax. Bahkan Chagaev masih saja memalsukan dokumen bank terkait solvabilitas keuangan klub, saat dia disidang kepailitan.

Xamax pun harus menguburkan mimpinya sebagai klub papan atas Swiss dan sekaligus mengikuti jejak klub Servette yang juga harus kolaps karena utang yang membengkak pada 2005.

Krisis finansial Eropa juga sebenarnya menyengat tajam bagi klub-klub Eropa saat ini. Di La Liga Spanyol, nama besar Real Zaragoza dipertaruhkan dan terancam gulung tikar bila mantan klub striker David Villa itu tak mampu menyelesaikan utang 110 juta euronya.

Tak hanya Zaragoza, klub lainnya semacam Real Mallorca, Rayo Vallecano dan Espanyol juga menghadapi risiko kebangkrutan jika tak pandai-pandai menata utangnya.

Kekhawatiran akan utang yang berujung bangkrut juga menjadi hal yang diperhatikan klub-klub Inggris. Saat bursa transfer Januari 2012 (window transfer), menurut Deloitte, para jawara Inggris hanya menghabiskan 60 juta pounds atau anjlok 70% dibandingkan tahun lalu, untuk membeli pemain.

Bisa jadi klub sepak bola Eropa kini merancang strategi financial fair play yang diusung UEFA. Pada periode 2011-2014, klub dibatasi memiliki defisit neraca keuangan maksimal 45 juta euro. Tahap kedua 2014-2017, maksimal defisit ditekan menjadi 30 juta euro.

Pada tahap kedua, klub akan diwajibkan membereskan semua kerugian dengan cara peningkatan modal atau donasi dan tidak diperkenankan melalui cara pinjaman.

Tahap ketiga 2017-2018, klub hanya bisa mengeluarkan uang jika mendapatkan pemasukan yang menguntungkan. Kalau ternyata masih defisit juga, ya terpaksa nasib klub sepak bola bisa seperti Kodak yang pailit.
Read more >>