Wednesday, December 28, 2011

Bisakah Merpati Hidup Lagi?


Ini artikel Dahlan Iskan soal Merpati http://m.jpnn.com/news.php?id=112358


KADANG libur itu penting. Pada hari tanpa kesibukan itulah persoalan yang rumit bisa dibicarakan secara mendasar, detail, dan habis-habisan. Misalnya, pada hari libur Sabtu lalu. Enam jam penuh bisa membicarakan rumitnya persoalan Merpati Nusantara Airline.

Tidak hanya direksi dan komisaris yang hadir, tapi juga seluruh manajer senior. Ruang rapat sampai tidak cukup sehingga pindah ke ruang tamu yang secara kilat dijadikan arena perdebatan.

Meski saya yang memimpin rapat, tidak ada hierarki di situ. Segala macam jabatan dan predikat saya minta ditanggalkan. Tidak ada menteri, tidak ada Dirut, tidak ada komisaris, dan tidak ada bawahan. Semua sejajar sebagai orang bebas. Duduknya pun tidak diatur dan tidak teratur.

Operator laptop dan proyektornya sampai duduk di lantai. Kebetulan saya juga hanya memakai kaus dan celana olahraga. Belum mandi pula. Baru selesai berolahraga bersama 30.000 karyawan dan keluarga Bank Rakyat Indonesia se-Jakarta memperingati ultah ke-116 mereka yang gegap gempita.

Pindah dari acara BRI ke acara Merpati pagi itu rasanya seperti pindah dari surga ke Marunda. Dari perusahaan yang labanya Rp 14 triliun ke perusahaan yang ruginya tidak habis-habisnya. Dari jalannya operasional saja Merpati sudah rugi besar.

Apalagi, kalau ditambah beban-beban utangnya. Tiap bulan pendapatannya hanya Rp 133 miliar. Pengeluarannya Rp 178 miliar. Pesawatnya tua-tua. Sekali dapat yang baru MA 60 pula.

Suasana kerja di Merpati pun sudah seperti perusahaan yang no hope! Maka, jelaslah bahwa persoalan Merpati tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa.

Restrukturisasi perusahaan dengan cara modern sudah dicoba sejak dua tahun lalu. Belum ada hasilnya "bahkan tanda-tandanya sekali pun. Upaya restrukturisasi ini telah menghabiskan enersi luar biasa. Lebih-lebih menghabiskan waktu dan kesempatan.

Panjangnya proses pengadaan pesawat Tiongkok MA 60 membuat peluang lama hilang begitu saja. Rute-rute kosong yang semula akan diisi MA 60 telanjur dimasuki Wing dan Susi Air yang lebih kompetitif. MA 60 yang menurut para pilot merupakan pesawat yang bagus, lebih berat lagi bebannya setelah terjadi kecelakaan di Kaimana.

Peristiwa yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kualitas pesawat itu ikut membuat Merpati ibarat petinju yang sudah sempoyongan tiba-tiba terkena pukulan berat.

Sebelum kecelakaan Kaimana, penumpang sebenarnya lebih senang naik MA 60. Pesawat ini sengaja didesain untuk negara tropis. AC-nya bisa berfungsi sejak penumpang masuk pesawat. Tidak seperti pesawat baling-baling lain yang panas udara kabinnya luar biasa dan baru berkurang setelah beberapa menit di udara.

Merpati memang sering kehilangan momentum. Bahkan, seperti sudah kehilangan momentum sejak dari lahirnya. Ketika kali pertama dipisahkan dari Garuda, pesawat-pesawatnya diambil, tapi utangnya ditinggalkan. Beban-beban lain juga menumpuk.

Semua itu enak sekali dijadikan kambing hitam oleh manajemen. Setiap manajemen yang gagal punya alasan pembenarannya. Kadang manajemen lebih sibuk mengumpulkan kambing hitam daripada bekerja keras dan melakukan efisiensi.

Benarkah tidak ada hope lagi di Merpati?

Itulah yang melalui forum pada hari libur Sabtu lalu ingin saya ketahui. Terutama sebelum saya membuat keputusan yang tragis: ditutup! Segala macam usaha sudah dilakukan.

Dua bulan lalu sebenarnya saya sudah menyederhanakan manajemen Merpati. Jabatan wakil Dirut saya hapus. Jumlah direktur saya kurangi. Ini agar manajemen lebih lincah. Juga terbebas dari beban psikologis karena wakil Dirutnya lebih senior dari sang Dirut.

Rupanya itu belum cukup. Saya harus masuk lebih ke dalam. Tiba-tiba saya ingin berdialog langsung. Dialog yang intensif dan tanpa batas. Dialog dengan jajaran yang lebih bawah.

Di masa lalu saya sering mendapat pengalaman ini: banyak ide bagus justru datang dari orang bawah yang langsung bekerja di lapangan. Bukan dari konseptor yang bekerja di belakang meja.

Memang ada rencana pemerintah dan DPR untuk membantu keuangan Merpati Rp 561 miliar. Tapi, akankah uang itu bermanfaat? Atau hanya akan terbang terhambur begitu saja ke udara? Seperti ratusan miliar uang-uang negara sebelumnya?

Tentu saya tidak ingin seperti itu. Harus ada jaminan ini: dengan suntikan tersebut Merpati bisa hidup dan berkembang. Tidak seperti suntikan-suntikan uang ratusan miliar rupiah di masa lalu. Ini juga harus menjadi uang terakhir dari negara untuk Merpati. Sudah terlalu besar negara terus menyuntik Merpati, dengan hasil yang masih begitu-begitu saja.

Karena itu, saya kemukakan terus terang di forum: daripada uang Rp 561 miliar tersebut terhambur ke udara begitu saja dan karyawan pada akhirnya kehilangan pekerjaan juga, lebih baik Merpati ditutup sekarang juga. Uang itu bisa dibelikan kebun kelapa sawit. Tiap karyawan mendapat pesangon 2 ha kebun sawit.

Orang Riau punya dalil: satu keluarga yang punya 2 ha kebun sawit, sudah bisa hidup sampai menyekolahkan anak ke ITB! Memiliki 2 ha kebun sawit lebih memberikan masa depan daripada terus menjadi karyawan Merpati.

Tentu ide ini membuat pertemuan heboh. Sekaligus peserta pertemuan tertantang untuk menolaknya. Mereka tidak rela kalau Merpati harus mati. Kebun sawit bukan bandingan untuk masa depan. Oke. Saya setuju. So what? Kalau dari operasionalnya saja sudah rugi, masih adakah alasan untuk mempertahankannya?

Maka, saya ajukan ide untuk melakukan pembahasan topik per topik. Ini untuk mengecek apakah benar masih ada harapan?

Topik pertama adalah: bagaimana membuat pendapatan Merpati lebih besar daripada pengeluarannya. Kalau tidak ada jalan yang konkret di topik ini, putusannya jelas: Merpati harus ditutup.

Asumsinya: bagaimana bisa memikul beban yang lain kalau dari operasionalnya saja sudah rugi besar. Berapa pun modal digerojokkan tidak akan ada artinya. Lebih baik untuk beli kebun sawit!

Meski logika sawit begitu jelas dan rasional, rupanya masih banyak yang takut mengubah jalan hidup. Ketika hal itu saya kemukakan, seseorang nyeletuk dari arah belakang. "Salah Pak Dahlan! Bukan kami takut menjadi petani sawit, tapi Merpati ini masih punya peluang besar," katanya. "Asal semua orang di Merpati punya etos kerja yang hebat," tambahnya.

Etos kerja ini begitu sering dia sebut sebagai penyebab utama kesulitan Merpati sekarang ini. Dia sangat percaya etos itulah kuncinya, sehingga sepanjang enam jam rapat itu dia selalu dipanggil dengan nama Pak Etos.

Pak Etos mungkin benar. Tapi, itu masih kurang konkret. Yang diperlukan adalah usul konkret dan realistis. Yang bisa membuat pendapatan lebih besar daripada pengeluaran. Yang bisa dilaksanakan dalam keadaan Merpati as is.

Pagi itu begitu sulit mencari ide yang membumi. Saya pun lantas teringat pada gurauan pedagang-pedagang sukses seperti ini: "Tuhan itu baik. Tapi, uanglah yang bisa membuat orang mengatakan Tuhan itu baik".

Rupanya perlu rangsangan material untuk melahirkan ide-ide kreatif. Rupanya perlu dana untuk mendatangkan Tuhan. Maka, saya tawarkan di forum itu: peserta rapat yang mengusulkan ide terbaik akan saya beri hadiah satu mobil baru, Avanza, dari kantong saya pribadi.

Rapat pun menjadi heboh. Gelak tawa memenuhi ruangan. Ide belum muncul, tapi warna mobil sudah harus dibicarakan. Setuju: warna krem! Neraka sawit ternyata tidak menarik. Surga Avanzalah yang menggiurkan. Pantaslah kalau Jakarta macet!

Tuhan rupanya benar-benar datang. Inspirasi bermunculan. Hampir semua peserta rapat mengangkat tangan. Mereka berebut mendaftarkan ide. Angkat tangan lagi untuk ide kedua. Ide ketiga. Bahkan, ada yang sampai mendaftarkan lima ide.

Setelah terkumpul 53 ide, barulah diperdebatkan. Mana yang konkret dan mana yang terlalu umum. Mana yang menghasilkan rupiah, mana yang menghasilkan semangat. Mana yang membuat pendapatan lebih besar, mana yang membuat pengeluaran lebih kecil.

Ide-ide itu kemudian di-ranking. Dari yang terbaik sampai yang terkurang. Dari yang terbanyak menghasilkan rupiah sampai yang menghasilkan etos. Perdebatan amat seru karena masing-masing mempertahankan idenya. Terjadi diskusi yang luar biasa intensif, mengalahkan rapat kerja bagian pemasaran.

Dari ranking yang dibuat, memang sudah bisa diketahui siapa yang bakal dapat mobil. Tapi, ada yang protes. "Sebaiknya hadiah baru diberikan setelah ide itu jadi kenyataan," teriaknya.

Rupanya, dia ingin membuktikan bahwa meski idenya kalah ranking, dalam pelaksanaannya kelak akan mengalahkan juara ranking itu. Setuju. Kita lihat dulu kenyataan di lapangan. Peluang bagi ide yang ranking-nya di bawah pun masih terbuka.

Tentu ide-ide itu masih dirahasiakan. Ini terutama karena masih akan dirumuskan dalam bentuk program kerja nyata di lapangan. Tapi, semua ide memang sangat menarik. Dari sinilah bisa diketahui bahwa Merpati seharusnya tidak akan rugi secara operasional. Kalau ini terlaksana, pemilik dana tidak akan ragu membantu. Alhamdulillah. Tuhan memberkati.

Topik berikutnya adalah MA 60. Bagaimana kinerjanya selama ini? Apakah bisa menghasilkan uang dan terutama bagaimana mengembalikan citra yang rusak akibat kecelakaan Kaimana?

Banyak juga ide gila yang muncul. Termasuk ide bahwa khusus untuk MA 60 sebaiknya dicarikan pilot bule. Seperti pesawatnya Susi Air. Orang kita lebih percaya kepada bule daripada bangsa sendiri. Ketidakpercayaan orang terhadap MA 60 bisa ditutup dengan pilot orang bule. Huh!

Saya benci dengan ide ini.

Tapi, demi Merpati saya menerimanya!

Maka, setelah enam jam berdebat, tepat pukul 16.00, rapat pun diakhiri dengan lega. Saya bisa segera pulang untuk mandi pagi! (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN
Read more >>

Tuesday, December 27, 2011

Ghost Protocol & traktiran seafood


Dua orang sahabat menonton film “Mission Impossible-4 Ghost Protocol” yang dibintangi Tom Cruise di salah satu bioskop ngetop di Jakarta. Di tengah pertunjukkan salah seorang dari mereka mengajak bermain tebak-tebakan. Pemenangnya akan ditraktir makan seafood 99 di kemanggisan sepuas-puasnya.

Tebak-tebakan dimulai saat film tersebut memutar adegan sang jagoan Ethan, diperankan Tom Cruise, mengejar Kendrick si teroris nuklir di tengah badai gurun pasir di sebuah tempat di Dubai.

“Ayo kita tebak-tebakan, apakah Kendrick bakal tertangkap dalam pengejaran ini?” kata orang pertama.

Orang kedua langsung menjawab, “Tertangkap!”

Ternyata dalam pengejaran itu Kendrick si teroris nuklir tidak tertangkap. Walhasil, usai pertunjukkan orang pertama berkata, “Ayo kita langsung ke kemanggisan, kamu harus mentraktir saya makan pecel lele sepuasnya.”

“Siap! Sebenarnya saya tahu sih kalau penjahat itu tidak tertangkap…”

Temannya terkejut dan langsung bertanya, “Lho, kok kamu tahu kalau penjahatnya tidak tertangkap?”

“Saya kan sudah nonton film ini tiga kali dan selama tiga kali saya nonton penjahatnya tidak pernah tertangkap. Seharusnya Ethan sebagai jagoan tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Saya kecewa sama dia, sebagai agen rahasia seharusnya dia belajar dari pengalaman sebelumnya.”
Read more >>

Boxing Day, Menentukan & Melelahkan


Kompetisi liga sepak bola mana yang terbaik di dunia saat ini? indikator dan selera yang beragam mungkin menghasilkan jawaban yang bermacam-macam pula. Saya lebih menyukai aksi-aksi pertandingan liga Inggris yang menarik.

Pilihan itu memang relatif, tetapi satu yang mungkin susah didapat di kompetisi liga sepak bola di negara lain adalah pertandingan akhir tahun. Kala hampir semua tim menjalani libur Natal dan Tahun Baru, liga Inggris justru membara atau biasa disebut dengan laga Boxing Day.

Tahun ini, sehari setelah Natal, puluhan ribu orang di Inggris akan berkumpul mendukung klub-klub yang bertanding di delapan stadion. Derby London semacam Chelsea versus Fulham, Arsenal menghadapi Wolverhampton Wanderers hingga Manchester United menjamu Wigan, dipastikan mencairkan salju-salju Desember.

Tak hanya itu, pada malam Tahun Baru alias 31 Desember pun, tujuh stadion termasuk Old Trafford, Stamford Bridge hingga Emirates Stadium akan menggemakan yel-yel dan nyanyian para pendukung klub-klub favoritnya.

Istilah Boxing Day, menurut beragam sumber, dipopulerkan sejak pertengahan abad ke-19, saat masa pemerintahan Ratu Victoria. Kala itu, Boxing Day merupakan perayaan khusus yang ditujukan untuk para pelayan yang setia melayani majikan selama setahun terakhir.

Para bangsawan memberikan libur sehari setelah hari Natal kepada para pelayan untuk dimanfaatkan mengunjungi keluarga mereka atau pulang kampung dan tentu saja para majikan tersebut memberikan hadiah-hadiah berupa pakaian, makanan, buah-buahan atau bahkan uang dalam kotak-kotak atau boks (boxes).

Sejak itu, jadilah tradisi pembagian kotak hadiah alias Boxing Day, hari di mana para masyarakat golongan bawah menikmati libur mereka. Di sejumlah negara, terutama negara anggota Persemakmuran seperti Australia, Selandia Baru dll, perayaan itu sering disebut Stephens Day.

Ada juga narasi sejarah yang menyebutkan tradisi tersebut merepresentasikan hari di mana sebuah kotak besi ditaruh di depan gereja untuk mengumpulkan sumbangan. Seiring perkembangan zaman, tradisi pun sedikit berubah.

Boxing Day menjadi hari untuk keluar rumah, orang melakukan tradisi berburu rubah, hingga kegiatan olahraga semacam kriket, balapan kuda hingga sepak bola. Lagi pula, Inggris memang memiliki sejarah sepak bola yang begitu kental.

Mereka telah bermain sepak bola nyaris 700 tahun lalu dengan penuh semangat. Saking semangatnya, pertandingan sepak bola di Inggris penuh dengan kekerasan sehingga Raja Edward III pada 1365 melarang olah raga tersebut.

Bahkan Raja Skotlandia James I pada 1424 juga melarang sepak bola dengan kalimatnya yang terkenal "Na man play at the Fute-ball" (No man shall play football). Namun sepak bola modern dengan aturan yang dimulai di Freemasons Tavern pada 1863, membuat orang Inggris tak pernah melupakan untuk menikmati ajang tersebut setiap Natal.

Karena itu, Boxing Day juga dirayakan dengan pertandingan sepak bola. Maknanya tetap tak berubah, pertandingan saat Natal merupakan ajang memberikan hadiah dan kebahagiaan. Setiap klub mengejar kemenangan dengan semangat yang sama.

Mereka bertanding untuk para fan. Kemenangan adalah hadiah terbaik bagi para pendukung, tetapi tak jarang pertandingan yang seru, kompetitif, meski kalah tetap mendapatkan sambutan hangat dari penonton karena dianggap atraktif dan menghibur.

Hebatnya lagi, pihak FA selaku federasi sepak bola Inggris, membuat jadwal pertandingan yang relatif saling menguntungkan bagi klub maupun penggemar. FA berupaya agar klub yang bertanding itu antarsatu wilayah ataupun kota.

Para pendukung Wigan tentu tak keberatan datang ke Old Trafford kandang Manchester United yang berjarak tak lebih dari 35 km, begitu pula dengan fans Fulham yang nyaris cuma beberapa menit dari rumah mereka di London Barat untuk berkumpul di Stamford Bridge, kandang Chelsea.

Namun memang tidak semua partai mempertandingkan dua tim markasnya saling berdekatan. Pada 26 Desember tahun ini, para pemain dan pendukung Blackburn harus rela menuju Anfield kandang Liverpool. Para pemain Man City seperti Mario Balotelli dkk juga menuju The Hawthorns markas West Brom Albion di West Midlands.

Bagi seorang Sir Alex Ferguson, Boxing Day dan pertandingan selama Desember jelas menjadi partai menentukan sekaligus melelahkan. Apalagi kini Man United dua poin di bawah rival sekota Man City.

Di Indonesia, boxing day mungkin diartikan suka-suka, ada yang mencari liburan ke luar kota, memburu diskon gila-gilaan di acara great sale pusat perbelanjaan hingga acara rohani. Selamat merayakan Natal untuk umat Kristiani. (fahmi.achmad@bisnis.co.id)
Read more >>

Wednesday, December 21, 2011

Belanja Iklan di Indonesia tembus US$2 miliar


Belanja iklan di Indonesia naik 24% pada kuartal III/2011 dibandingkan dengan pertumbuhan di kuartal yang sama tahun lalu, yakni mencapai lebih dari US$2 miliar.

Pertumbuhan dua digit ini didorong oleh naiknya belanja iklan di televisi (25%) dan surat kabar naik 22%, sedangkan pertumbuhan majalah cenderung stabil di 7%.

Menurut Irawati Pratignyo, Managing Director untuk Media Group di Nielsen Indonesia, pertumbuhan di kuartal III/2011 banyak disebabkan oleh kegiatan beriklan yang dilakukan selama puasa dan hari raya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap puasa dan menjelang hari raya di Indonesia, iklan kategori tertentu, seperti telekomunikasi dan makanan, serta minuman banyak ditampilkan di berbagai media.

“Dengan konsumsi konsumen selama masa tersebut, sektor manufaktur cenderung menaikkan nilai belanja iklannya untuk mendorong belanja konsumen,” katanya, 20 Desember 2011.

Dia menuturkan sektor telekomunikasi tetap menjadi pembelanja yang terbesar di kuartal III/2011, tumbuh sekitar 89% dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu, diikuti oleh produk perawatan rambut (naik 11%) dan belanja kategori pemerintah dan politik yang naik 27%.

Irawati menambahkan hasil analisa tersebut menunjukkan ekonomi lokal di Indonesia masih berkembang dan mampu bertahan dari guncangan eksternal

Sementara itu belanja iklan di Asia Tenggara mencatat pertumbuhan yang baik di semua media utama, lebih dari US$5 miliar pada kuartal III/2011.

Menurut analisa terbaru yang dirilis oleh perusahaan media dan informasi global, Nielsen, total belanja iklan di seluruh wilayah itu naik 3% pada kuartal III/2011 dibandingkan dengan perhitungan kuartal II/2011.

David Webb, Managing Director untuk Advertising Solution Nielsen menyatakan hasil perhitungan tersebut menunjukkan adanya kenaikan sekitar 16% dari kuartal III/2010 dan 15% dari tahun ke tahun.

“Indonesia mengalami kenaikan pertumbuhan iklan yang paling tinggi dalam belanja iklan di kuartal III tahun ini, naik 24% dibandingkan dengan kuartal III/2010, diikuti Filipina yang naik 15% dan Singapura yang naik 10%,” jelasnya.

Dia menuturkan pertumbuhan belanja iklan ditambah dengan kuatnya kepercayaan dari konsumen di wilayah-wilayah tersebut merupakan tanda-tanda yang menjanjikan bagi Asia Tenggara.

Kuatnya pertumbuhan belanja iklan di Asia Tenggara setahun belakangan ini, lanjutnya, memperlihatkan adanya kekuatan di wilayah tersebut ditengah ketidakpastian ekonomi global.

Bahkan, David menambahkan naiknya belanja iklan di negara-negara, seperti Indonesia dan Filipina memperkuat sentimen di kawasan itu bahwa ekonomi lokal masih berkembang dan mampu bertahan dari guncangan eksternal.

Menurut Nielsen’s Southeast Asia Quarterly Advertising Index 2011 itu, pertumbuhan belanja iklan di media utama dipacu oleh pembelanjaan televisi dan surat kabar.

“Belanja iklan di televisi naik 5% di kuartal III/2011 dan 17% dibandingkan dengan juartal III/2010, sedangkan surat kabar tetap pada posisi yang sama di kuartal III tahun ini dengan pertumbuhan 14% dari kuartal sebelumnya,” paparnya.

David menjelaskan iklan tentang perawatan rambut, telekomunikasi, dan pemerintahan memimpin di sektor utama yang berkontribusi dalam belanja iklan di wilayah Asia Tenggara.

Sementara itu, pemasar di wilayah ini berhadapan dengan tantangan untuk penyebaran anggaran iklan melalui platform media yang senantiasa berkembang.

“Televisi terus memperlihatkan kemampuannya dalam menjangkau massa dan perkembangan teknologi, seperti televisi berlangganan dan pergantian waktu penyiaran dapat berkontribusi menjadi daya tarik bagi televisi,” ungkapnya.

David menilai dengan memandang tahun mendatang, tantangan untuk menentukan alokasi belanja iklan akan menjadi tugas utama para pemasar dan semua media, baik tradisional dan yang baru, harus mencari cara untuk mempertahankan pemirsa/pembaca.

Anda mau beriklan?
Read more >>

Kini Twitter punya Pangeran Alwaleed bin Talal


Pangeran Arab Saudi Alwaleed bin Talal, salah satu orang terkaya di dunia dan pemegang saham di beberapa perusahaan terkemuka besar Eropa dan AS, telah membeli kepemilikan saham senilai US$300 juta di Twitter, layanan microblogging terpopuler saat ini.

Pangeran Alwaleed, melalui perusahaan investasinya Kingdom Holding, sekarang memegang kepemilikan 3% di Twitter, yang senilai sekitar US$10 miliar.

Alwaleed berpendidikan Barat, kadang-kadang disebut sebagai Warren Buffett Timur Tengah, adalah investor utama di perusahaan-perusahaan AS lainnya, khususnya dalam teknologi, media dan sektor keuangan.

Sebagai keponakan raja Arab Saudi, Alwaleed tercatat berada di daftar orang terkaya dunia dengan nangkring di posisi 26 daftar konglomerat dunia versi Forbes.

Dia adalah pemegang saham terbesar kedua setelah keluarga Murdoch di Fox News pemilik News Corp, dan juga memiliki saham besar dalam Time Warner, Citigroup, General Motors dan Apple.

Alwaleed tidak berinvestasi secara langsung di Twitter, melainkan membeli saham dari investor yang ada, menurut Majalah Fortune.

"Kami percaya bahwa media sosial secara fundamental akan mengubah lansekap industri media dalam beberapa tahun mendatang. Twitter akan menangkap peluang yang menguntungkan ini," kata Ahmed Halawani, Direktur Eksekutif Kingdon Holding Ekuitas Swasta dan Investasi Internasional.

Sebelum investasi Pangeran Alwaleed, Twitter sebenarnya telah memiliki pemegang saham konglomerat lainnya yaitu miliarder Rusia Yuri Milner pada awal tahun ini yang menggelontorkan dana US$800 juta melalui DST.

EMarketer memangkas estimasi untuk pendapatan iklan 2011 untuk Twitter menjadi US$139,5 juta dari US$150 juta pada September karena sejumlah layanan Twitter mulai lambat. Namun, untuk 2012, eMarketer menilai Twitter dapat meningkatkan pendapatan iklan sebesar 86%.

Evan Williams dan Biz Stone, dua pendiri Twitter, telah berkurang keterlibatan mereka di bawah Chief Executive Officer Dick Costolo, yang mengambil kendali perusahaan pada Oktober 2010.

Yang menarik, investasi Alwaleed dilakukan setelah Twitter menjadi sarana bagi aktivis Arab dari Tunisia hingga Bahrain untuk mengkoordinasikan protes dan suara oposisi mereka kepada penguasa rezim-rezim otokratis.

Saat ini, menurut studi bulan lalu yang dirilis Semiocast perusahaan penelitian media sosial dari Prancis, bahasa Arab adalah bahasa yang sekarang paling cepat berkembang di Twitter.

Semiocast mencatat hingga kini tweet bahasa Arab baru 1% dari seluruh pesan Twitter, tetapi volume mereka telah melompat 22 kali selama setahun terakhir.

Anda sudah mencoba nge-tweet memakai bahasa Arab? cobalah! mungkin menyenangkan.
Read more >>

Tuesday, December 20, 2011

Gaji anda lebih besar dari Ketua KPK?


Berdasarkan PP No 29 Tahun 2006 sebagaimana diubah dengan PP No 36 tahun 2009, disebutkan bahwa pimpinan KPK mendapatkan gaji pokok, tunjangan jabatan, dan tunjangan kehormatan setiap bulan. Mereka juga mendapatkan sejumlah tunjangan fasilitas seperti rumah, transportasi, asuransi dan tunjangan hari tua.

Berikut daftar gaji pimpinan KPK:

1. Gaji pokok

Ketua KPK : Rp 5.040.000 (lima juta empat puluh ribu rupiah)
Wakil ketua KPK : Rp 4.620.000,00 (empat juta enam ratus dua puluh ribu rupiah)

2. Tunjangan Jabatan

Ketua KPK : Rp 15.120.000,00 (lima belas juta seratus dua puluh ribu rupiah)
Wakil Ketua KPK : Rp 12.474.000,00 (dua belas juta empat ratus tujuh puluh empat ribu rupiah).

3. Tunjangan Kehormatan

Ketua KPK : Rp 1.460.000,00 (satu juta empat ratus enam puluh ribu rupiah)
Wakil Ketua KPK : Rp 1.300.000,00 (satu juta tiga ratus ribu rupiah).

4. Tunjangan Perumahan:

Ketua : Rp23.000.000,00 (dua puluh tiga juta rupiah)
Wakil Ketua : Rp21.275.000,00 (dua puluh satu juta dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah )

5. Tunjangan Transportasi:

Ketua : Rp 18.000.000,00 (delapan belas juta rupiah)
Wakil Ketua : Rp 16.650.000,00 (enam belas juta enam ratus lima puluh ribu rupiah)

6. Tunjangan Asuransi Kesehatan dan Jiwa:

Ketua : Rp2.200.000,00 (dua juta dua ratus ribu rupiah)
Wakil Ketua : Rp2.200.000,00 (dua juta dua ratus ribu rupiah)

7. Tunjangan Hari Tua:

Ketua : Rp5.405.000,00 (lima juta empat ratus lima ribu rupiah)
Wakil Ketua : Rp4.598.500,00 (empat juta lima ratus sembilan puluh delapan ribu lima ratus rupiah)

Dengan demikian, total gaji yang diterima seorang ketua KPK yakni Abraham Samad adalah Rp 70.225.000,00, sementara para wakilnya mendapat Rp 63.117.500,00.
Read more >>

Friday, December 16, 2011

Premi kendaraan jadi andalan baru asuransi


Segmen kendaraan bermotor mendominasi perolehan premi bruto industri asuransi umum dengan kontribusi 31,29% dari keseluruhan premi per kuartal III/ 2011, menggeser dominasi perlindungan properti

Dari data yang dirilis Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), total perolehan premi asuransi umum nasional hingga periode tersebut mencapai Rp23,7 triliun atau naik16,1% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp20,43 triliun.

Dari perolehan premi tersebut, segmen asuransi kendaraan bermotor menyumbang Rp7,43 triliun. Sementara itu, premi dari sektor properti berkontribusi sebesar Rp6,58 triliun.

Segmen properti hingga akhir semester I/ 2011 masih tercatat menjadi lini usaha yang membukukan perolehan premi tertinggi.

Secara industri, perolehan premi dari lini usaha kendaraan bermotor tumbuh 14,4% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp6,49 triliun.

Kepala Bidang Statistik AAUI Budi Herawan mengatakan kemudahan orang dalam mendapatkan kredit menjadi penyebab tingginya penjualan kendaraan bermotor yang berdampak pada naiknya polis asuransi kendaraan bermotor.

Dia menyebutkan beberapa pemain medium dalam bisnis asuransi kendaraan bermotor bahkan mencatatkan pertumbuhan premi lini usaha tersebut hingga lebih dari 200%.

"Tahun ini banyak muncul jenis kendaraan baru, bahkan sampai inden. Kami memperkirakan pertumbuhan itu [premi asuransi] akan tetap berlangsung pada tahun depan. Itu tidak hanya membawa dampak positif untuk asuransi kendaraan bermotor, tetapi juga properti dan kargo," ujarnya 15 Desember 2011.

Berdasarkan catatan AAUI, beberapa perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan premi asuransi kendaraan bermotor secara signifikan antara lain PT Asuransi Sinar Mas yang tumbuh 38,42% dari Rp570,67 miliar menjadi Rp759,95 miliar.

Selain itu, PT Adira Dinamika Insurance juga mencatatkan tumbuh 32,91% dari Rp549,91 miliar menjadi Rp730,90 miliar, dan PT Asuransi Central Asia tumbuh 26,78% dari Rp460,47 miliar menjadi Rp583,81 miliar.

Namun, lini usaha kendaraan bermotor tercatat juga memberikan kontribusi tertinggi hingga 36% terhadap total pembayaran klaim industri. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, klaim mencapai Rp3,20 triliun umbuh 11% dari Rp2,87 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Akan tetapi, secara total AAUI mencatat klaim bruto hingga akhir September 2011 mengalami penurunan 13% menjadi Rp8,7 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp10,09 triliun.

Penurunan tersebut terutama disebabkan berkurangnya klaim pada lini usaha asuransi properti sebesar 19% dari Rp2,98 triliun pada akhir kuartal III/2010 menjadi Rp2,40 triliun pada akhir September 2011.

"Tahun lalu ada pembayaran klaim bencana alam di Padang. Pada tahun ini belum ada kejadian bencana besar yang memukul industri asuransi. Efek positifnya, pembayaran klaim pun ikut turun," lanjut Budi.

Budi menjelaskan angka-angka yang dipaparkan oleh AAUI di atas hanya mencakup perusahaan yang bergerak di bidang asuransi kerugian, tidak termasuk empat perusahaan asuransi dan pull asuransi gempa bumi PT Maipark Indonesia yang menjalankan praktek reasuransi.

Sementara itu Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Julian Noor memperkirakan total perolehan premi yang dapat dihimpun industri asuransi kerugian pada tahun ini dapat mencapai Rp34 triliun.
Read more >>

Monday, December 12, 2011

Samurai biru, Restorasi & Kompetisi sepak bola




Namanya Mutsuhito Meiji, umurnya 15 tahun saat terpilih sebagai pemimpin terbesar Jepang sejak Jimmu Tenno yang membuat Jepang memiliki tonggak sejarah untuk selalu bangkit menjadi bangsa yang besar.

Jepang pernah menjadi bangsa yang begitu miskin dengan ciri khas negara agraris pada abad 16 yang dipimpin shogunat klan Tokugawa. Setidaknya alur sejarah itu bisa terlihat kalau anda menonton The Seven Samurai karya sutradara Akira Kurosawa.

Selama 250 tahun, negeri para samurai itu terisolasi dari dunia luar hingga muncul Laksamana Matthew C. Perry yang memaksa Jepang membuka pelabuhan mereka untuk kapal-kapal barat dan perjanjian tarif impor yang merugikan.

Kaisar Meiji naik tahta dengan dukungan anak-anak muda berpikiran maju seperti Ito Hirobumi yang menjadi perdana menteri pertama dan Saigo Takamori, yang keduanya baru berusia 30-an tahun. Mereka punya tantangan membangun negara dalam waktu singkat.

Caranya? mereka mengacu Meiji Charter Oath 1868, bahwa pengetahuan akan dicari ke seluruh penjuru dunia dan dasar-dasar kekaisaran akan diperkuat. Dan gelombang orang Jepang pun menyerbu pusat kemajuan peradaban Amerika, Inggris, Prancis hingga Jerman.

Hasilnya dalam dua dekade, Jepang berhasil memiliki konglomerat (zaibatsu) yang berpikiran modern seperti Furukawa Ichibei, raja tembaga yang memiliki Fuji electric dan Fujitsu, lalu Iwasaki Yataro pendiri perusahaan Mitsubishi, dan Shibusawa Eiichi pendiri Dai Ichi Bank.

Pola zaibatsu itu tetap muncul meski negaranya pernah diguncang gempa bumi dahsyat maupun kehancuran bom atom akibat perang dunia. Namun kini kita mengenal Akio Morita (Sony), Konosuke Matsushita (Panasonic), Toyoda Sakichi (Yoyota), dan tentunya Soichiro Honda (Honda).

Bagi Jepang, tidak ada yang instan untuk mencapai kemajuan dan kejayaan, perlu waktu dan kerja keras. Tak hanya soal bisnis, olah raga pun demikian, seperti membangun cerita sukses mereka di sepak bola.
Sebelum 1990-an, nyaris tak ada yang tahun Jepang memiliki kompetisi sepak bola yang maju bercirikan industrialis. Negeri Matahari Terbit itu baru memiliki kompetisi sepak bola J-League sejak 1992.

Sebelum era J-League, para pemainnya pun belumlah profesional, dan mereka lebih semi amatir. Klub-klub yang ikut kompetisi pun boleh dikatakan adalah anak asuhan konglomerasi seperti Mitsubishi, Yamaha, Nissan, dll.

Jepang sebenarnya dulu begitu tertarik dengan kompetisi sepak bola Indonesia. Sistem Galatama dan Divisi Utama PSSI merupakan salah satu kajian serius yang diminati JFA, federasi sepak bola Jepang.

Ricky Yacobi, striker era 1980-an dari Arseto Solo, pada Juli 1989 dikontrak klub Matsushita Jepang dengan nilai nyaris Rp100 juta. Kala itu dia langsung bergabung dengan Matsuhita yang uji coba dengan timnas Thailand. Namun, Ricky tak mampu beradaptasi dengan udara dingin di Jepang. Hanya empat pertandingan yang sempat dia ikuti—dengan satu gol sempat dicetak.

Jepang tak malu mencoba banyak strategi, mulai dari program naturalisasi pemain seperti Ruy Ramos, mendatangkan pelatih asing Arsene Wenger untuk melatih Nagoya Grampus Eight, hingga mensponsori Hidetoshi Nakata bermain di Perugia Serie-A Italia.

Namun, seperti Restorasi Meiji, revolusi total melanda J-League. Kompetisi menjadi industri tersendiri dan zaibatsu memang tetap menjadi nama klub, tetapi manajemen klub dan para pemain menjadi profesional murni dari sisi finansial dan bisnis.

Hasilnya, Jepang dengan timnas Samurai Biru-nya kini menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola di dunia. Dalam peringkat FIFA, Jepang berada di posisi 19 dunia, dan merekalah yang menjadi pemuncak di level Asia, di atas Australia, Korea Selatan dan Iran.

Bahkan timnas putri Jepang menjadi juara dunia 2011 mengalahkan Amerika Serikat, Jerman dan Prancis yang selama ini mendominasi.

Cerita serupa memang mirip dengan upaya federasi sepak bola Inggris, melakukan revolusi total dan menghasilkan Premiere League sejak 1992. Baik J-League dan Premiere League bisa menjadi contoh sukses bagaimana liga profesional dibentuk dengan proses yang panjang.

Secara bisnis dan kedua kompetisi juga menjadi yang terbaik dan tengah mencari keberuntungan tak sekedar mencetak tim nasional yang tangguh tetapi juga meraih gelar seperti Spanyol dengan La Liga-nya.

Bagaimana dengan Indonesia? sepertinya kita juga membutuhkan Restorasi PSSI, toh kita punya zaibatsu dan konglomerasi yang mau memainkan dananya.
Read more >>

Thursday, December 8, 2011

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani




Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam.

Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta.

"Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011.

Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian.

Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin kesegaran dan keamanannya dari bahan pengawaet.

"Biar fresh dan bebas formalin. Ada orang dari Makassar yang mengirim ikan ke Jakarta lewat pesawat," katanya.

Mangga Barani mengatakan lokasi yang dipilih di Senayan sangat strategis, karena berdekatan dengan Hotel Mulia, gedung DPR, dan Gelora Bung Karno.

Mangga Barani kemudian memberikan beberapa tips dalam terjun ke bisnis kuliner ini. Dia mengatakan memilih nama Puang Oca karena merupakan nama panggilannya sebagai orang Bugis. Nama Puang Oca juga dipilih karena unik dan membuat orang penasaran. Pemilihan nama itu, kata dia merupakan satu dari empat strategi dalam bisnis kuliner.

"Restoran juga harus bisa bersaing di telingga. Kalau namannya unik akan dicari orang," katanya.

Strategi lainnya yang dicari konsumen dalam mencari rumah makan adalah suasana yang nyaman. Tak hanya itu, konsumen juga harus diberi kesempatan menikmati makanan lewat hidungnya, sehingga dapurnya sedikit dibuka agar mereka bisa menghirup bau masakan.

"Yang terakhir baru beri makan mata dan lidahnya. Sajian diberi minimal tiga warna agar lebih menarik," ujarnya.

Setelah rumah makan Puang Oca, Mangga Barani siap ekspansi ke beberapa kota besar lainnya.

Komjen Pol Jusuf Mangga Barani lahir di Makassar 11 Februari 1953.

Dia adalah lulusan Akpol tahun 1975 dan dalam pernah bertugas di Dili, Timtim (sekarang Timor Leste) sebagai pasukan khusus anti gerilya BKO Korem mulai pangkat Letda sampai Kapten (sekarang AKP).

Sejak 1976 sampai 1982, Jusuf Manggabarani menjabat Kasat Sabhara Polwiltabes Makassar dan kemudian Dansat Brimob di Makassar dengan pangkat mayor (sekarang Kompol).

Antara tahun 1982 sampai 1988, ia masuk Sespim, kesatuan Gegana kemudian mengambil Sesko ABRI. Selanjutnya, dari tahun 1988 sampai 1994 menjabat Kapolwiltabes Makassar, Kapolwiltabes Bandung, Wakapolda Sulsel, Dansat Brimob. Jusuf pernah juga menjabat Kapoda NAD dan Kapolda Sulsel (1994-2004). Pada 2004 menjabat Kadiv Propam, pada 2005 sebagai Irwasum, dan Wakapolri pada 2010.

2004, dia ditarik ke Jakarta karena kasus UMI (Universitas Muslim Indonesia).

Dia sangat amat tertutup kepada pers.

Mau sedekat apapun berkawan dengan Jusuf Mangga Barani, sepanjang ia mengetahui bahwa pihak yang dekat dengannya itu adalah jurnalis maka secara otomatis juga pria kelahiran Makassar ini akan mengunci mulutnya rapat-rapat.

Tak akan pernah ada satu wartawan pun yang bisa memancing atau mengorek secuil saja informasi berharga berkait rahasia-rahasia atau bocoran-bocoran kebijakan dalam internal Mabes Polri.

Bagi yang mengenal Perwira Tinggi yang satu ini, rata-rata akan berpendapat sama yaitu wajah Jusuf Mangga nyaris “tidak ada ekspresi”.

Sehingga, sangat tidak jelas apakah ia sedang marah atau berkelakar. Sebab, wajahnya akan tetap dingin. Suaranya juga khas, nyaring dengan intonasi yang sangat “Makassar”.

Dan ketika ditanya soal kesan-kesan selama bertugas sebagai polisi selama 36 tahun, Jusuf Mangabarani menjawab sebagai berikut :

“Semua tugas saya selama 36 tahun ini berkesan. Tidak ada yang tidak berkesan. Lalu setiap bertemu saya, kamu ini selalu saja bertanya kepada saya, mengapa gaji polisi terlalu kecil ? Kalau soal gaji, sudah mulai alhamdulilah. Polri menyesuaikan dengan kemampuan negara. Jangan dibilang ini bahasa klise bahwa kemampuan keuangan negara terbatas. Ini sungguh-sungguh bahwa Polri memang menyesuaikan diri dengan kemampuan negara” ungkap Jusuf Mangga.

Lalu tentang keberadaan dirinya yang sejak belasan tahun terakhir selalu dikirim dan diandalkan oleh Pemerintah untuk terjun langsung mengatasi daerah-daerah konflik seperti Aceh dan Poso, Jusuf Mangga menjawab sebagai berikut :

“Saya selalu membawa kader-kader setiap kali saya diperintahkan menangani daerah-daerah konflik yang penuh kerusuhan. Ini berkaitan dengan prinsip LEARNING BY DOING. Saya menangani masalah kerusuhan di Poso tahun 2000-2001 dan 2009. Jadi dimanapun terjadi kerusuhan atau konflik, akar permasalahannya adalah perbedaan pendapat. Sehingga permasalahan yang menimbulkan konflik dan berbagai kerusuhan berdarah tadi harus ditangani dengan jujur, arif dan bijaksana. Jadi itulah juga yang saya lakukan sebagai penengah setiap kali mendapat perintah menangani daerah kerusuhan” jawab Jusuf Mangga.

“Anak saya yang nomor 3, Edi Sabara Mangga Barani namanya, dia anggota Densus 88. Dia lebih suka tinggal di asramanya daripada tinggal bersama saya. Umurnya masih 23 tahun. Tingginya 187 cm. Saya sebagai ayah, tidak tahu kemana atau dimana kegiatan anak saya ini setiap harinya. Eh, tiba-tiba beberapa malam lalu dia muncul di rumah. Dia ketuk kamar tidur saya … dia bilang, Pak … Edi pulang. Saya dan isteri saya terkejut. Saya bilang … Sini masuk nak, darimana saja kau ?. Dia naik ke atas tempat tidur saya. Kami bicara bertiga, saya, isteri saya dan anak saya itu. Dia tinggi sekali. Jauh lebih tinggi dari saya”.

Walau tak tahu dan tak bisa memantau detik demi detik keberadaan anak ketiganya yang menjadi Anggota Densus 88 Anti Teror ini, Komjen Jusuf Mangga Barani mengaku justru dengan anak ketiganya inilah ia paling dekat.

“Edi itu tidak bisa ditebak kapan pulang ke rumah. Tapi kalau dia pulang dan bisa menginap sehari atau 2 hari dirumah saya … kami pergi berdua saja. Pakai topi, ransel, lalu naik Angkutan Umum. Ya … ke tempat-tempat alam bebas. Jalan kaki sekian jam. Kalau ada kesempatan seperti itulah, saya bisa punya banyak kesempatan menasehati dia. Kami bicara tentang kehidupan. Sebagai Bapak, saya sampaikan banyak hal yang harus dia ingat sebagai bekal dalam menjalani kehidupannya. Kalau sudah berpergian begitu, pulangnya kami naik Angkutan Umum, tidak ada yang mengenali” kata Jusuf Mangga Barani

Wakapolri Jusuf Mangga Barani mengisahkan juga bahwa anak ketiganya pernah mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa.

"Ya, itu dia dapatkan bukan karena saya tapi karena dia berprestasi dalam penanganan terorisme bersama Tim Densus 88. Lalu dia bilang … apa Bapak pernah dapat kenaikan pangkat luar biasa ? Saya jawab belum. Saya tahu maksudnya … anak ingin membandingkan dirinya dengan saya. Lalu saya tanya balik, saya bilang … Bapak tidak pernah mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa. Tapi sekarang Bapak tanya … siapa gurumu di dalam hidup ini sehingga kau bisa seperti sekarang ? Dia jawab …. guru saya yang paling berjasa ya BAPAK !" ujar Jusuf.

"Beberapa hari lalu dia datang mau menemui saya tetapi ditahan dia sama Provost. Dia baru tahu rupanya kalau Bapaknya ini Wakapolri” kata Jusuf Mangga sambil tersenyum.

“Ditahan sama Provost, maksudnya bagaimana pak ?”

“Anak saya datang ke sini. Semua tamu kan harus berhadapan dengan Provost dulu di Gedung Utama ini. Provost tanya mau bertemu siapa ? Anak saya bilang dia mau bertemu Wakapolri. Provost bilang mereka harus periksa dulu tas dan bawaan dari setiap tamu. Begitu tas anak saya dibuka, isinya senjata semua. Dia langsung dibawa ke ruangan khusus oleh Provost untuk diperiksa. Provost tanya kamu ini siapa dan mengapa membawa banyak sekali senjata ? Terpaksa anak saya mengeluarkan tanda pengenalnya. Dia jawab namanya adalah Edhie Sabara Mangga Barani” tutur Jusuf Mangga sambil tertawa.

“Mengapa datang menemui Bapak sambil bawa senjata begitu banyak ?” tanya

“Dia mau menunjukkan pada saya tentang beberapa contoh sejata yang mereka pakai untuk latihan. Dia kan sekarang semacam pasukan khusus di Polri ini. Mereka butuh peluru untuk latihan. Jadi dia ditugaskan atasannya untuk menerangkan kepada saya. Ini bukan KKN ya. Mereka memang menggunakan jalur resmi juga untuk meminta logistik peluru untuk latihan tetapi secara informal dirasa perlu untuk menerangkan kepada saya. Saya candai dia waktu datang kemarin. Saya bilang, kamu memang pantas ditahan Provost karena datang bawa senjata begitu banyak mau menemui Wakapolri. Jangan dipikir, bisa gampang-gampang saja kalau mau menemui Wakapolri” jawab Jusuf Mangga.

“Lho memangnya tidak bisa bertemu di rumah saja, Pak ”

“Saya saja tidak tahu dimana dia hari demi hari. Berteleponan saja tidak pernah. Kalau saya coba telepon, handphone-nya mati. Dia itu memang tidak pernah mau dekat sama Bapaknya ini karena nanti penilaian orang bisa macam-macam. Jadi saya baru bisa bicara dengan dia kalau dia yang menepon saya. Pak, kirim pulsa ya … pulsa saya habis. Kalau sudah kehabisan pulsa untuk telepon, barulah dia menelepon Bapaknya. Dia juga jarang datang ke rumah saya. Tapi tiba-tiba, dia bisa datang dan ketuk kamar tidur saya ” jawab Jusuf Mangga menahan geli atas perilaku anaknya.

“Apa bapak tidak kuatir tentang keberadaan dan keselamatan anak Bapak ”

“Kenapa saya harus kuatir ? Saya polisi, dia juga polisi. Kami sama-sama tugas. Dan saya percaya dia bisa menjaga dirinya dalam menjalankan tugas-tugasnya. Anak saya yang satu ini berbeda penampilannya. Dia pakai jenggot dan kemana-mana sering pakai celana pendek. Ya itu karena tuntutan tugasnya. Waktu kemarin dia ditugaskan atasannya datang menemui saya, dia datang pakai celana panjang. Dia tidak pakai celana pendeknya tapi jenggotnya masih tetap dipelihara” kata Jusuf Mangga.

Soal anak, ini ada lagi cerita tentang Jusuf Manggara Barani saat pengumuman Akpol 2010 Semarang.

Seorang perwira polisi yang mengaku sebagai Kepala Kepolisian Resor Wamena, Papua, mengamuk di depan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Jenderal Polisi Yusuf Mangga Barani. Kapolres itu protes karena anaknya sudah tiga kali mendaftar sebagai taruna Akademi Kepolisian tapi dinyatakan tidak diterima terus.

Protes Kapolres itu dilakukan usai pengumuman seleksi tahap akhir taruna dan taruni tahun ajaran 2010 di Ruang Cenderawasih, Komplek Akademi Kepolisian, Semarang, Rabu (18/8/2010). Jenderal Yusuf Manggabarani mengumumkan satu per satu pendaftar yang tidak diterima.

Dari 410 yang lolos seleksi akhir hanya 300 orang, sehingga ada 110 orang yang dipanggil ke depan karena tidak lolos. Anak Kapolres Wamena itu salah satu yang dipanggil ke depan.

Usai pengumuman, tiba-tiba orang tua salah satu taruna yang menjabat sebagai Kapolres itu ngluruk ke depan. Dia yang sebelumnya duduk di barisan orang tua calon taruna itu maju ke depan untuk menuding-nuding Yusuf Manggabarani sambil mengeluarkan pernyataan.

"Saya yang mendamaikan perang suku di Papua. Mana keadilan itu, masak anak saya tiga kali ikut tes, tapi tetap tidak bisa masuk (Akpol)," kata Ajun Komisaris Besar Stefanus Adi saat itu.

"Saya siap dipecat asal anak saya diterima di Akpol," kata Kapolres Wamena tersebut.
Wakapolri terlihat enggan melayani aksi protes tersebut. Ia hanya diam saja.

Kapolres itu mengaku hanya punya satu anak itu sehingga sangat mengecewakan jika tidak diterima sebagai taruna. Ah namanya juga rasa sayang dan cinta orang tua kepada anak.

Jusuf dan istri dikaruniai empat anak, tiga lelaki satu satu perempuan. Sang anak perempuan Andi Fatmawati Mangga Barani menikah dengan Erwin Aksa, sang putera mahkota Bosowa Grup, yang didirikan Aksa Mahmud, suami dari Ramlah Kalla, adik Jusuf Kalla, mantan wapres.

Anak pertama Jusuf bekerja di maskapai penerbangan. Sementara anak bungsunya masih duduk di bangku sekolah dasar. Menarik, kehadiran anak bungsu di keluarga Jusuf Mangga Barani. Diceritakan, Jusuf dan istrinya kesepian di rumah karena tiga anaknya yang sudah dewasa.

“Saat itu saya bilang sama istri, kita bikin anak lagi supaya ada teman. Jadi kami bikin anak lagi, walaupun kakak-kakaknya sudah besar. Lahirlah dia, sampai sekarang tidurnya pun sama saya dan istri saya,” kisah Jusuf tentang anak terakhirnya tersebut.

Jusuf Manggabarani mempunyai tiga cucu dari anak keduanya. Waktu luangnya dihabiskan bersama istri dan anak terakhir dan cucunya. Jusuf memiliki usaha restoran di Makassar, dan usaha peternakan ayam dan perkebunan durian di Desa Moncongloe, Kecamatan Mamuju.

Ayam yang dikembangkan cukup banyak, di antaranya jenis kalosi, Arab Merah, Kedu Putih, Cemani, Bangka Blitung, Arab Hitam, Bangkok, Mutiara, Plung, Kedu Hitam, Kedu Campuran, Jaya Super, ayam kampung super, Ketaya/kretek, dan kalkum.

Sementara untuk durian, ada 36 jenis durian ditanam di perkebunannya. Durian tersebut didatangkan dari berbagai negara, seperti Thailand, Mesir, Singapura, Australia, dan beberapa negara lainnya untuk dikembangkan. Jusuf mengalokasikan sekitar 100 hektare lahan untuk kedua usahanya tersebut.
Read more >>

Wednesday, December 7, 2011

Sri Mulyani, Century, Public at Large



Ini cerita 22 Desember 2009 yang saya re-run kembali:

"Kali ini saya datang memperkenalkan diri sebagai menteri keuangan kabinet Indonesia bersatu jilid II " kata Sri Mulyani Indrawati, di markas redaksi kami Selasa,22/12. Jarum jam di tangan saya menunjuk pukul 16.18 wib.

Hari itu, kebetulan, Wapres Boediono bersaksi di depan Pansus Hak Angket Kasus Bank Century. Setelah dia, Miranda Goeltom juga bersaksi. Hari sebelumnya Burhanuddin Abdullah dan Anwar Nasution.

Si ibu menkeu tentu datang tak sendiri, ada Sekjen Depkeu Mulia P Nasution, Irjen Depkeu Hekianus Mano, Dirjen Pajak Muhammad Tjiptardjo, Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi, dan pasukan biro humas departemen pengelola uang negara itu.

Teman-teman saya pada bertanya, atau lebih tepatnya banyak berkomentar, "Ngapain dia? cari dukungan ya?" tanya Cyntia.

Tetapi, tanggapan dan komentar usil iseng juga banyak, "Asyikkk dung...bisa foto bareng," kata Diah, Presiden arisan di Cibubur Country.

"Jer basuki mowo bea..jer road show mowo dukungan," kata Munir sambil makan 3 lapis martabak.

"Salam cubit ya untuk bu srimul.." Nury yang gemes.

"Menerima kunjungan sri wedari ngga ?" kata Adyta, pemilik tiket terusan pertandingan Chelsea di Stamford Bridge.

"oh my...betisnya..." ujar Setan Martabak yang biasa mangkal di Mampang Prapatan.

Tetap saja banyak komentar dengan sikap kritis atas dasar profesionalisme, etika maupun sekedar jaga gengsi.

"Sekali-sekali terima tamunya Sri Gayatri dong. Pasti seru tuh," kata Kokok, merujuk ikon perjuangan nasabah Bank Century di Surabaya.

"Ya biasalah, namanya orang lagi jadi perhatian…ya harus pinter2 cari dukungan…. Sing penting ya kita objektif aja…" kata bapake T-Lo.

Namun, sore itu, bu Menkeu tetap tersenyum tipis dengan balutan kebaya gading. Terus terang saya menikmati rentetan kalimat panjang dengan tarikan satu nafas yang keluar dari mulut bu Sri. Bagi saya, Sri Mulyani, Miranda Swaray Goeltom dan Mari Elka Pangestu adalah orang-orang pintar.

Saya sering membandingkan ketiga wanita pejabat publik itu, kebetulan saya lama meliput mereka. Mereka sama-sama pernah jadi pengamat ekonomi, mereka sering mencampurkan bahasa inggris dalam penjelasan... tapi bu Mari Pangestu lebih fasih cas-cis-cus.. suerrrr deh.

Sore itu, Sri Mulyani mengatakan dirinya dan departemen keuangan cukup sibuk mengurus kegiatan rutin pengelolaan keuangan negara. Target penerimaan pajak, bea cukai, jadi perhatian rapim tiap pekan. "Kami mengikuti angka demi angka. jadi kami ini full alert," katanya.

Namun, Sri Mulyani tak bisa menahan magnet berita Bank Century. Dia bilang, paginya dirinya menerima banyak e-mail tentang pendapat pelaku dan finansial tentang kondisi ekonomi pada periode September-Desember 2008.

"Kenapa tuh bu?" saya penasaran.

"Waktu itu, banyak pengamat bilang pemerintah seharusnya melakukan penjaminan penuh terhadap dana perbankan. Saya coba ingatkan lagi hal itu, its not coming from my mouth," katanya.

Saat itu, kata bu Sri, kondisi ekonomi nasional lagi demam. Kurs rupiah terus naik, indeks saham anjlok, dan para pengamat punya peran menyulut kepanikan.

Soal itu, mau tak mau saya sepakat. Pada september 2008, berita yang kami bikin mengkonfirmasikan ekonomi yang dibilang demam itu.

BI dalam laporannya menyatakan cadangan valuta asing turun menjadi US$58,36 miliar pada Agustus dari sebelumnya US$60,56 miliar pada Juli.

Indeks sempat menyentuh level 1.999,53 pada perdagangan sesi pertama 5 September dengan aksi pelepasan besar-besaran terjadi pada saham pertambangan dan perbankan. Sepanjang tahun ini, IHSG telah terkoreksi 26,34% atau 723,26 poin.

Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah akhirnya melemah 1,6% menjadi Rp9.364/US$ pada penutupan 5 September, posisi terburuk sejak 27 Mei. Rupiah sempat mencapai posisi terbaik pada 2008 pada 7 Maret, yakni pada level Rp9.060/US$.

11 September 2008, berita kami melansir pernyatan Bank Indonesia. Deputi Senior Gubernur BI Miranda S. Goeltom mengatakan eksposur bank terhadap valas masih dalam batas wajar, sehingga perbankan di Tanah Air dinilai cukup aman menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah. Namun dampak krisis makro lembaga keuangan di Amerika Serikat terhadap perbankan dalam negeri baru bisa dirasakan hingga akhir tahun.

Dia menjelaskan eksposur perbankan terhadap valas pada saat ini berbeda jauh dengan posisi ketika krisis moneter pada 1997/1998. Pasalnya, bank sentral kini membatasi porsi penyaluran kredit terhadap valas.

"Seperti Anda ketahui ada aturan position [penempatan valas] dan kami tidak melihat bahwa kondisi ini seperti tahun 1997, yakni banyak eksposur yang tidak tercatat, tetapi yang ini [eksposur sekarang] kami mengetahui," paparnya.

Pada krisis moneter 1997/1998 portofolio kredit perbankan terhadap valas, khususnya dolar AS, mencapai 70%-80%. Di samping itu banyak eksposur bank yang tidak tercatat dan tidak sesuai dengan peruntukan dalam menyalurkan kredit.

Faktor tersebut yang menyebabkan perbankan di Tanah Air yang gulung tikar atau harus mendapatkan uluran bantuan likuiditas Bank Indonesia untuk mengatasi distorsi rupiah terhadap dolar yang kala itu sampai menembus Rp20.000 per dolar AS.

"Kami masih mengamati, kalau dari sisi dampak yang kami pentingkan tidak ingin pasar panik,masyarakat panik," kata Miranda kala itu.

Pilihan otoritas moneter menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 9,2% tidak mampu membuat rupiah menjadi lebih menarik di mata pemilik dana. Sejak itu rupiah turun 2%.

Data Bloomberg menyebutkan dana asing dalam sehari kemarin keluar dari bursa Indonesia senilai US$20,6 juta (senilai Rp186 miliar), meskipun belum cukup berarti mengurangi pengendapan sepanjang tahun berjalan sebesar US$398,1 juta.

"Wuiiiih, angka-angka itu sudah bikin takut ya ?" kata Mat Usil sok tahu.

Pada Oktober 2008, keluar jurus-jurus finansial. Tapi jelas bukan angka 212. Yang ini serius. 2 peraturan pemerintah pengganti UU (Perppu) diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Regulasi itu berlaku mulai 13 Oktober 2008.

Pemerintah memutuskan menaikkan nilai simpanan yang dijamin maksimal menjadi Rp2 miliar dari semula Rp100 juta guna menenangkan nasabah yang menaruh dananya di bank.

Sementara itu, untuk menjaga ketersediaan likuiditas perbankan dalam kondisi darurat Bank Indonesia melonggarkan regulasi yang menyebutkan bahwa portofolio kredit bisa diagunkan guna mendapatkan pinjaman dana dari otoritas tersebut.

"Situasi sekarang sudah seperti itu [ancaman krisis], karena sektor keuangan mengalami tekanan khususnya perbankan. Jadi dengan tambahan kriteria tersebut pemerintah mengubah jaminan simpanan yang ditetapkan dalam Perppu," papar Menkeu saat pengumuman perppu tersebut.

Tetapi saat itu, saya masih ingat kalau Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono justru meminta adanya penjaminan penuh. Sigit Pramono menyesalkan beredarnya sejumlah isu miring perbankan pada beberapa hari terakhir itu

"Saya katakan yang paling bahaya itu rumors. Bank ini seperti orang nonton di bioskop, kalau kita bilang ada kebakaran, semua penonton pasti lari. Ini psikologi massa," ujarnya.

Sigit mengatakan penjaminan dana masyarakat secara penuh menjadi salah satu kunci utama meredam efek negatif dari isu-isu tentang kondisi perbankan saat ini. "Di Singapura itu memberikan penjaminan penuh tanpa alasan dan perhitungan macam-macam."

Kemarin sore 22 Desember 2009, Sri Mulyani kembali mengingatkan, "Saat itu perintah bapak Presiden cuma satu. beliau tidak mau ekonomi Indonesia krisis dan kembali masuk IMF. Tapi bos saya satu lagi, pak JK, bilang pokoknya saya tolak kalau ada blanket guarantee."

Sri Mulyani ingin menjelaskan kala itu kalau pengamat dan bankir ingin ada penjaminan penuh dari pemerintah agar bank-bank kecil tetap selamat dari terpaan krisis. sementara 2 bos beri perintah untuk menjaga ekonomi in all cost.

Lalu, dia mulai cerita bagaimana dirinya mulai berurusan dengan Bank Century ketika pada 13 November 2008 dirinya yang di Brasil ikut rombongan presiden, mendapat telp dari pak Boediono tentang kasus gagal kliring Bank Century.

Kliring adalah pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antarbank baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungan diselesaikan dalam waktu tertentu. Bank harus menempatkan dana dalam bentuk giro di BI agar bisa ikut dalam transaksi. Tanpa ketersediaan dana yang cukup, maka pengajuan kliring bisa ditolak.

"Pak Boed telp minta teleconference. Saat itu ad interim menkeunya yaitu pak Sofyan Djalil. Kami punya protokol JPSK. Pak Sofyan Djalil bahkan kasih kami masing-masing 1 telp yang bisa assured komunikasi tak putus. Jadi pak Boed telp bilang BC ada masalah kesehatan likuiditas. Saya lapor ke Presiden, pak ini ada masalah Bank Century" ungkap Sri Mulyani.

"Saat itu banyak rumor, bilang ada yang di meja makan lah, sarapan pagi lah. Saya pikir itu berbagai fitnah... " sri Mulyani kembali nyerocos.

"17 malam, kami rapat di BI. Waktu itu skenarionya BI match maker, ada 2 konglomerat mau beli. Tapi terus ada yang bilang gimana kalo itu dibeli Bank Mandiri?"

"Terus kami tanya pak Agus Mertowardoyo dirut Bank Mandiri. Tapi dia bilang Robert Tantular is not a good name....."

".. Saat itu tidak pernah BI menjelaskan secara clear juga.... Jadi yang keluar cuma market intellegence saja.. Jadi pada 18, deputi BI datang ke kami, ... informal mereka bilang itu sudah sistemik jadi pemerintah harus kasih fasilitas pembiayaan darurat..."

"BI boleh lender of the last resort, tapi ini yang problemnya di goods jadi ongkosnya tetap pemerintah...."

"Saya tanya ke pak Boed, FPJP nya berapa? sekitar 600 miliar.. loh kreditnya Rp10 triliun terus NPL-nya 5% kok.. itung-itungan saya BI mestinya bisa injeksi lagi. Trus bu Fadjrijah bilang Century sudah dalam pengawasan khusus. Jadi di atas kerta mereka sudah mengawasi..."

"Biasanya kami kalau menutup bank itu weekend, sehingga bisa kasih tahu nasabah. jadi senin bisa kami handle dengan tenang,"

"Tapi ini its all about psychology. everybody think that situation is on crisis"

"Tanggal 19 November 2008, kami rapat lagi. kami ada 23 peer group bank yang mirip-mirip dengan BC."

"LPS itu cuma punya Rp14 triliun, aset BC Rp11 triliun. Saya bayangkan kalo 1 lagi bank yang kolaps, LPS udah selesai padahal kata BI ada 23 bank yang mirip. Firdaus Djaelani ketua LPS disuruh kerja kayak BPPN. Lha wong 1 bank saja dia belum pernah...."

"Kami pakai pasal 37 A Undang-undang perbankan. Dalam situasi krisis, pemerintah dan BI bisa bentuk badan seperti BPPN."

"Saat itu tetap terus bicara di mana-mana setiap kesempatan.Saya ingin menghilangkan gap of information. Confidence semua sudah low."

"Jadi diputus pada setengah 6. terus baru rapat KSSK, yaitu menkeu, gubernur BI, pak Raden...."

"Saat itu biaya Rp1,7 triliun dan Rp652 miliar kalau bank itu tetap hidup. Tapi kalau dimatikan bisa Rp6,5 triliun karena penjaminan LPS sudah naik dari Rp100 juta per rekening menjadi Rp2 miliar per rekening..."

"Saya ditanya auditor BPK, kalau ibu tahu biayanya Rp6,7 triliun kenapa tidak pilih yang Rp6,5 triliun? jadi saya tanya balik, kalau anda yang jadi menkeu gimana? Taruhan saya benar, tidak terjadi kepanikan..."

"Jadi ini mempertimbangkan Rp2.000 triliun dana masyarakat di perbankan. dulu saja pernah hilang Rp600 triliun... tapi apa itu gambling? gak juga.. apakah saya kenal Robert Tantular? gak juga.. jadi gituloh ceritanya...."

"oooh gitu toh bu?..." saya coba belagak berpikir sambil makan anggur dan jeruk yang dihidangkan.

"Jadi apa ibu dan pejabat sekarang trauma mengambil keputusan?" bos saya bertanya.

"Kami sadari kalau kami diaudit dan diawasi tapi bukan diintimidasi. ini beda sekali..." kata Sri Mulyani kembali ke tensi tinggi.

"Kami menganggap ini sudah kelewatan...negeri ini kok seperti tidak menghargai reputasi gitu, kok bisa disejajarkan dengan yang pagi ngomong A terus sore ngomong B," kata bu Menkeu berapi-api.

Sri Mulyani pernah menerima dua penghargaan. Pertama sebagai menteri keuangan terbaik di Asia dari Lembaga Emerging Market Forum. Kedua sebagai menteri keuangan terbaik di dunia versi salah satu majalah ekonomi, Euro Money.

Dia Ediana Rae, Ketua Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI)dalam sambutan diskusi “Perlindungan Terhadap Kebijakan Publik”, Senin 21 Desember 2009 mengatakan "Siapapun penguasa public di negara kita ini tidak akan ada yang berani mengambil keputusan pada saat-saat penting dan genting untuk kehidupan perekonomian dan negara kita apabila selalu dihadapkan kepada rasa ketakutan terhadap konsekuensi politik dan hukum yang akan mereka terima, padahal pengambilan keputusan tersebut, terutama pada saat krisis, tentu saja dihadapkan kepada segala keterbatasan pertimbangan (judgement) dan keterbatasan infrastruktur pendukung seperti dasar hukum yang kuat."

"Oleh karena itu, setiap pengambilan keputusan public yang dilakukan dengan itikad baik (good faith) semata-mata untuk kemaslahatan masyarakat (public at large) seharusnya mendapat dukungan yang kuat dari semua elemen bangsa, baik institusi formal maupun masyarakat sipil (civil Society) di Indonesia," kata Dian.

Miranda Goeltom juga gusar berkali-kali ditanyakan soal pengawasan perbankan oleh Bank Indonesia ketika mengikuti pemeriksaan oleh Pansus Hak Angket Kasus Bank Century.

Ketika Miranda mengaku tidak mengetahuinya, para anggota Pansus seolah menuduh dirinya menutupi informasi. Berkali-kali Miranda diminta untuk berkata sebenarnya.

"Saya mengeluh, hati saya sedih. Mengapa saya ditanya hal-hal yang saya tidak tahu, lalu disebut sebagai orang bodoh. Negara juga harus ada keadilan. Tentu Pansus sudah baca laporan BPK dan mengetahui siapa Deputi Gubernur BI bidang pengawasan. Tapi kenapa (yang dipanggil) Miranda Goeltom?" ujar Miranda sedikit emosional.

"Saya di sini sebagai saksi. Dalam setiap perkataan, saya disumpah. Saya tidak bisa terima saya dibilang bodoh. Saya tidak bisa mengatakan apa yang saya tidak tahu. Kalau saya tahu, saya akan jelaskan sampai detail," kata Miranda.

Bicara reputasi. Semua pejabat pasti sudah memiliki kapabilitas dan kompetensi sehingga bermuara pada reputasinya.

Burhanuddin Abdullah juga punya reputasi mentereng. Dia dinobatkan menjadi salah satu dari lima bankir negara terbaik dunia tahun 2007 oleh majalah ekonomi internasional dari Amerika Serikat, Global Finance, karena dianggap berhasil memimpin bank sentral Indonesia, menjaga stabilitas makro ekonomi selama 2005.

Tapi apa reputasi itu jadi perhitungan para hakim ketika kasus Burhanudin disidangkan. Tak ada yang peduli, semua hilang dan tersisa jabatan dan para penjilat yang berkuasa.

"...Pemimpin kami bukan hanya telah belajar dari krisis 97/98, tetapi juga menulis sejarah untuk menghindarkan negara ini dari krisis 08/09..." kata Aswin. Saya sependapat dengan dia, hanya saja, sejarah ditulis para pemenang.

Pak Burhan pun berkomentar soal pernyataan Aswin, "Bagus itu...ada usaha untuk mengembalikan kebanggaan."

"Aaah jam saya sudah menunjukkan pukul 17.25.. maaf bu menkeu, saya mo ngejar deadline dulu.." kata saya sambil keluar dari ruangan pertemuan.

Sampai kapan kau akan terus menunggu
Mendengarkan buaian lagulagu merindu
Dari seorang biduan yang punya banyak pasangan
Dari seorang pahlawan yang menambah garis kemiskinan
Dari seorang sastrawan yang menulis sejarah kebohongan...
Dari seorang bersinar hitam yang mengaku dirinya Tuhan


Karet, 23 Des 2009
faa
Read more >>

Monday, December 5, 2011

Kinerja reksa dana Januari-November 2011


Rerata imbal hasil reksa dana saham pada Januari hingga November 2011 tercatat minus 4,35% lebih rendah dari pertumbuhan indeks harga saham gabungan yang tumbuh 0,31%.

Berdasarkan data PT Infovesta Utama, terdapat 49 produk reksa dana dari 65 reksa dana saham yang berimbal hasil (return) negatif, sedangkan sisanya 16 produk mampu mencatatkan kinerja positif.

Adapun, satu produk dari 16 reksa dana berkinerja positif itu mencatatkan return plus, tetapi nilainya masih di bawah return IHSG 0,31%. Produk tersebut yakni Schroder 90 Plus Equity Fund dari PT Schroder Investment Management Indonesia dengan return 0,23%.

Dari 15 produk berkinerja positif di atas IHSG, kinerja tertinggi adalah Makinta Mantap dari PT Makinta Securities dengan return 16,04% dan disusul Panin Dana Maksima milik PT Panin Asset Management 6,92%, dan Millenium Equity milik PT Millenium Danatama Indonesia 6,47%.

Selanjutnya, kinerja yang turun terdalam dibukukan oleh Mega Dana Ekuitas milik PT Mega Capital Investama yang membukukan return -23,01%, lalu OSK Nusadana Alpha Sector Rotation milik PT OSK Nusadana Asset Management -22,07%, dan Pratama Saham -16,73% yang diterbitkan oleh PT Pratama Assets Management.

Analis PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan penurunan kinerja reksa dana saham akibat pengaruh penurunan IHSG itu terutama terjadi pada September. Selain itu, penurunan indeks pun terpengaruh krisis Eropa.

"Indeks turun cukup dalam, selain itu pada awal tahun juga sempat turun. Indeks kembali terpengaruh krisis utang di Eropa ketika IHSG pada September terjerembab. Sentimen ini mempengaruhi imbal hasil reksa dana saham," katanya 2 Desember 2011

Namun, Wawan optimistis pada akhir tahun biasanya indeks melanjutkan tren positif, sehingga diharapkan hal itu dapat memompa imbal hasil dari investasi reksa dana. "Data dana kelolaan November mungkin terbit Senin pekan depan. Jadi, data unit penyertaan reksa dana bisa terlihat," katanya.
Alokasi portofolio

Direktur Utama Panin Asset Management Winston SA Sual mengatakan kinerja salah satu produk perseroan, yaitu Panin Dana Maksima, di atas IHSG yakni 6,92%. Perseroan menerapkan alokasi portofolio bagi saham-saham pilihan yang merupakan saham lapis menengah.

Namun, dia mengakui kinerja sejumlah produk reksa dana dari perusahaan hasil pemisahan usaha (spin-off) PT Panin Sekuritas Tbk itu berada pada level rata-rata, bukan meningkat signifikan mengingat volatilitas IHSG juga cukup tinggi.

"Saya pikir penilaian kami tepat atas pergerakan pasar, sehingga produk kami bisa lebih baik dari waktu ke waktu. Pasar pada awal tahun ini bergerak tinggi, tetapi pada paruh kedua ini sebenarnya rata-rata sebaran portofolio kami pada saham menengah cukup baik," kata Winston.

Analis riset Infovesta Utama Rudiyanto pada kesempatan sebelumnya mengatakan pergerakan return reksa dana yang lebih rendah dibandingkan dengan IHSG itu, seiring dengan terkoreksinya bursa pada awal tahun ini bersamaaan dengan beberapa bursa dunia.

Setelah indeks meningkat, reksa dana belum mampu mengejar koreksi tersebut. Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, total dana kelolaan reksa dana mencapai Rp157,46 triliun hingga 30 Oktober 2011, naik dari bulan sebelumnya yang mencapai Rp149,91 triliun.
Read more >>