Wednesday, December 29, 2010

'menjapu lawan' bukan dengan "sapu kaju"

08 April 1972

SEMENTARA tidak sedikit penggemar sepakbola Indonesia melepas team PSSI ke Turnamen Pra-Olimpik dengan rasa tjemas bertjampur harapan, tidak kurang pula bakal lawan-lawannja jang mendjagoi Indonesia untuk keluar sebagai djuara.

PSSI Di Mata Asia (Majalah Tempo / Tempo Online http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1972/04/08/OR/mbm.19720408.OR59354.id.html )

Di Inya Lake Hotel, tempat menginapnja para peserta (ketjuali Birma) dan para ofisial FlFA* dan AFC jang menangani penjelenggaraan babak kwalifikasi Olimpik bersama tuan rumah Birma, sorotan terhadap anak-anak Indonesia bagaikan santapan pagi mereka.

Dari kasak-kusuk jang mampir ditelinga Redaktur Olahraga TEMPO Lukman Setiawan, ternjata -- apapun sikap merendah dikemukakan para pemain Indonesia--sikap tegas dan penuh kejakinan dari Hadji Sjarnubi Said berhasil meradang sampai kesungsum lawan.

"Kita akan sapu semua lawan", pernjataan sang Hadji kepada Pers selesai Managers" Meeting, setelah terlebih dulu didalam sidang tersebut ia menjatakan "No problem" setjara blak-blakan terhadap perubahan sistim pool jang memaksa Indonesia harus bertanding melawan Israel dan India .

Dan Frans Hutasuit, Wakil Team Manager Indonesia pun sadar bahwa untuk 'menjapu lawan' bukan dengan "sapu kaju", tetapi dengan permainan bersih tanpa meninggalkan permainan keras.

Psy-War. Namun agaknja Hutasoit merasa perlu mempertebal mental bertanding anak-buahnja, sambil sekaligus mentjiptakan suasana psikologis jang menguntungkan. Untuk ini rombongan PSSI dibawanja berziarah kemakam Aung San, Pahlawan Revolusi Birma.

Dan keesokannja--mendjelang malam pertandingan Indonesia-Muangthai tersiarlah gambar-gambar team Indonesia jang begitu simpatik akan penuh kechidmatan memandjatkan doa dihadapan makam Pahlawan Birma.

"Apakah tindakan ini dipandang sebagai psy-war atau bukan, terserahlah", kata Hutasoit. "tapi pertjajalah keichlasan kami sebagai wakil rakjat Indonesia didalam menunaikan mission nasional".

Dan memang disamping nilai-nilai magis dan mistik jang selalu melekat pada bangsa Timur, rasa religius jang berakar pada para anggota team tidak pula diabaikan. Hari Djumat dan hari Minggu pertama dirantau, hiampir semua anggota rombongan beribadah di Mesjid dan Geredja.

Sementara itu, keluara KBRI di Rangoon jang djarang-djarang ditamui oleh saudara-saudaranja dari Tanah Air, melalui Kuasa Usaha lan Pers Atasenja, masing-masing Hartojo dan Moh Arief, berusaha untuk mentjukupi kebutuhan team - Dubes Hartono sendiri baru tiba kembali diposnja dari Tanah Air pada tanggal 26 Maret. Stanley Rouse.

Begitulah hari-hari selama di Rangoon dilewatkan. Disamping latihan-latihan seperlunja untuk mendjaga kondisi dan memenuhi djadwal pertandingan, usaha mentjapai final ditempuh dengan segala upaja jang maksimal. Tetapi bagaimanakah sikap 1,8 djuta rakjat Ibukota Birma--disamping mendjagoi Kesebelasannja--djuga mengungguli team Indonesia dan Israel?

Agaknja selama dua minggu masa Turnamen ini, hidup mereka terkungkung hanja oleh pagoda dan sepakbola. Meski sesungguhnja Turnamen untuk memperebutkan peluang ke Olimpiade Munich bagi mereka lebih merupakan ukuran untuk mendjadjagi kekuatan sepakbola Asia di dunia.

"Dapatkah salah satu kesebelasan Asia tampil sebagai djuara di World Cup?" tanja seorang wartawan Birma pada Sir Stanley Rouse disuatu konperensi pers.

Sir Stanley jang dikenal sebagai Ketua FIFA, tidak tjanggung djawabnja: "Bisa sadja. Bola itu bundar. Dan bisa sadja seorang wasit atau pendjaga garis membuat kesalahan".

Namun demikian dalam suatu pertemuan chusus antara Sir Stanley dan Sjarnubi Said selaku Pimpinan PSSI (jang didampingi Jumarsono dan Hutasoit, masing-masing Sekdjen dan Komisaris PSSI) Ketua FIFA itu menundjuk kiri luar Kadir jang boleh ditarafkan dengan pemain pro Eropa dan kepada kiper Judo ia menundjukkan kekagumannja.

Terhadap kesebelasan Indonesia jang begitu fanatik untuk memenangkan Turnamen opini publik Birma sederhana: "Kalah menang itu sepakbola". Dan sikap lunak mereka terpantul pada 40.000 penonton jang selalu memenuhi Stadion Aung San dipusat kota: memihak jang bermain tjemerlang dan mengedjek jang bermain kotor.

Kesadaran untuk mentjapai sepakbola jang bermutu amat mendjiwai mereka. Itulah sebabnja mereka lebih-lebih menganggap Pra Olimpik sebagai barometer untuk menilai kesebelasan-kesebelasan Asia ditengah sepakbola dunia -- termasuk pula Indonesia.
Sebegitu djauh adakah peningkatan mutu dari kesebelasan Asia (ketjuali Israel)? Sir Stanley Rouse tidak ragu.

Djawabnja pasti, meski ia lebih jakin djika program pendidikan coaching FIFA jang baru sadja berachir di Kuala Lumpur dimana ikut pula Aliandu dan Frans Jo dari PSSI--dapat dilandjutkan ditahun-tahun, jang akan datang.

Menempatkan diri sebagai petjinta bola Birma neratja PSSI dari tahun 1971 sampai tengah berlangsungnja Pra-Olimpik tersimpul pada data berikut:
Indonesia - India 3--1 (Merdeka Games 71, K. Lum)
Indonesia - India 1--2 (Pesta Sukan 71 Singapura).
Indonesia - India 4--2 (Pra--Olimpik 72, Rangoon).
Indonesia - Thailand 1--0 (Asian cup 71, Bangkok).
Indonesia - Thailand 0--0 (Aniversary cup 71, Djakarta).
Indonesia - Thailand 0--1 (King's cup 71, Bangkok).
Indonesia - Thailand 4--O (Pra-Olimpik 72 Rangoon).
Indonesia - Burma 1--3 (Presiden's cup 71, seoul)
Indonesia - Burma 1--1 (Anivesary cup 71 Jakarta).
Indonesia - Burma 0--1 (Final Ann. cup 71, Jakarta).
Indonesia - Burma 2--2 (Merdeka Games 71, K. Lum).
Indonesia - Burma 0--1 (Final Merdeka Games 71, K.L).
Indonesia - Burma ? (Pra--Olimpik '72, Rangoon)
Read more >>

Saturday, December 4, 2010

Tahniah dari lapangan hijau

Oleh Fahmi Achmad
Wartawan Bisnis Indonesia

Sulit rasanya membantah kalau pekan ini, puluhan juta penduduk Indonesia yang menyukai sepak bola mungkin mencapai klimaks menikmati hasil pertandingan tim-tim besar.

Awal pekan, mungkin banyak pendukung Manchester United (Inggris) dan Barcelona (Spanyol) berseri-seri karena tim mereka menang telak. MU menekuk Blackburn Rovers 7-1 dan Barcelona membantai Real Madrid 5-0.

Namun, itu belum seberapa rasanya karena pada Rabu malam, timnas Indonesia tampil gemilang dengan menang besar 5-1 atas Malaysia, negara tetangga yang menjadi musuh bebuyutan sejak beberapa dekade silam.

Rasa bangga sebagai orang Indonesia pun membuncah, meski mata ini rasanya belum terbiasa melihat orang bule menggunakan kostum Garuda dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Ya, suka tak suka, permainan Christian Gonzales dan Irfan Bachdim memang lumayan mempesona dan membuat permainan anak-anak asuhan Alfred Riedl kali ini sangat menarik ditonton. Dalam laga itu, keduanya masing-masing menyumbangkan satu gol untuk Indonesia.

Irfan Bachdim bahkan seakan menjadi idola baru di Tanah Air, dan tentu saja jadi pujaan oleh kaum hawa. Bahkan di layanan mikrobloging Twitter, jumlah follower akun @irfanbachdim10 meroket dari 7.000 menjadi 33.428 orang pada 2 Desember, atau hanya sehari setelah gol perdananya.

Pemuda 22 tahun tersebut kini seakan menggantikan Bambang Pamungkas sebagai golden boy tim Garuda.

“ I will do my best and hopefully we win the next game!!” kata Irfan, yang memang belum fasih berbahasa Indonesia, dalam akun mikrobloging tersebut 20 jam setelah pertandingan.

Si golden boy pantas untuk harus terus berharap bermain baik karena lawan Indonesia berikutnya tak lah mudah. Laos yang dilatih David Booth (Inggris) bisa menahan seri 2-2 atas tim terkuat Asia Tenggara, Thailand yang dilatih Bryan Robson (Inggris).

Dua lawan Indonesia satu grup tersebut memang tak menggunakan pemain naturalisasi seperti Singapura dan Filipina yang bermain di grup lain di Vietnam.

Singapura,sang tiga kali juara Piala AFF, bahkan menjadi kampiun pada 2007 (seharusnya terlaksan pada 2006) dengan tiga pemain asing yang sudah disahkan menjadi warga negara Singapura. Masing-masing adalah Agu Casmir (Nigeria), John Wilkinson (Inggris), dan Aleksander Duric (Serbia).

Tahun ini, Singapura juga mengandalkan mereka ditambah dengan Emuejeraye Precious (Nigeria) yang menjadi bek sentral Persija Jakarta, Shi Jiayi (Cina), Mustafic Fahrudin (Serbia) dan Bennett Daniel Mark (Inggris).

Sementara itu, Filipina juga mengandalkan delapan pemain keturunan mereka di ajang AFF 2010. Filipina ke putaran final Piala AFF 2010 setelah lolos kualifikasi yang digelar di Laos. Mereka mengalahkan Timor Leste 5-0, dan bermain imbang dengan Kamboja 0-0 dan Laos 2-2.

Filipina juga memiliki Neil Etheridge, kiper ketiga di Fulham (Inggris) saat ini yang lulusan akademi Chelsea, dengan gelandang naturalisasi lainnya Phil Younghusband yang kini bermain di klub Superliga Denmark, Esbjerg Fb.

Biar bagaimanapun, klimaks itu belum akan usai. Ayo Garuda terbang tinggi dan bawalah kabar baik buat negeri tercinta ini. (fahmi.achmad@bisnis.co.id)
Read more >>

Belajar integritas dari sepak bola

Sepak bola memang sudah demikian kiranya menjadi industri yang punya pakem, siapa menang dia untung. Namun sepak bola juga punya kode etik dan nilai-nilai sportivitas yang hidup lebih dari seabad silam.

Kasus teranyar adalah pelatih Real Madrid Jose Mourinho yang menyuruh Sergio Ramos dan Xabi Alonso untuk mendapatkan kartu merah melalui pesan berantai yang disampaikan kiper cadangan Jerzy Dudek, via kiper utama Iker Casillas.

Kartu merah kedua pemain saat menghadapi Ajax yg dimenangkan 4-0 tersebut, membuat Ramos dan Alonso absen lawan Auxerre, tetapi Madrid telah aman dan keduanya bisa main di babak knock out selanjutnya.

Secara strategi, aksi Mourinho tak ada yang salah, sama benarnya dengan aksi yang kurang terpuji seperti aksi diving dan juga gol "tangan tuhan".

Aksi yang masih hangat dan mejadi kontroversi tentu saja tindakan Thierry Henry yang dengan sengaja menahan bola dengan tangannya, yang membawa Perancis lolos ke Piala Dunia 2010 & membuat Irlandia mengubur impiannya berlaga di Piala Dunia 2010.

Tak ada memang pemain yang mau mengaku begitu saja kalau dia bersalah menjegal lawan, atau juga bermuka polos seperti Luiz Suarez yang menahan bola dengan tangan kala menghadapi Ghana dan membuat Uruguay lolos ke semifinal Piala Dunia di Afsel.

Namun, jiwa sportivitas tetap terlihat di zaman sepak bola modern seperti sejumlah contoh di bawah ini.

1. Ascoli vs Reggina (Serie B : Desember 2009)
Ascoli memberikan gol secara cuma-cuma kepada Reggina saat kedua tim bertarung dalam lanjutan Serie B Italia di Del Duca Stadium.
Gol itu diberikan gratis kepada Reggina lewat aksi Pagano karena gol Ascoli sebelumnya diklaim tidak layak dilakukan karena salah seorang pemain Reggina, Carlos Valdez, hendak mengeluarkan bola karena ia mengalami cedera. Namun Vincenzo Sommese menahan bola untuk tetap di lapangan dan membawanya ke gawang Reggina sebelum dimasukkan ke gawang.
Ascoli yang baru menyadari niatan Carlos Valdez untuk meminta perawatan karena cederanya dengan membuang bola, akhirnya memberikan gol secara cuma-cuma kepada Reggina..
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/aa/Carlos_Adri%C3%A1n_Valdez.jpg

2. Daniele De Rossi ( Roma vs Messina : Serie A 2003-2004)
De Rossi mendapat pujian dari wasit Mauro Bergonzi setelah dia mencetak gol pada pertandingan A.S. Roma melawan Messina. Bergonzi mengesahkan gol tersebut, tetapi De Rossi menunjukkan tindakan fair play nya dengan mengatakan kepada wasit Mauro Bergonzi bahwa dia memasukkan bola dengan tangannya. Akhirya gol tersebut dibatalkan, dan pertandingan itu sendiri berakhir dengan kedudukan 2-1 untuk Roma.
http://www.les-transferts.com/wp-content/uploads/2009/05/daniele-de-rossi.jpg

3. Costin Lazar (Rapid Bucharest vs Otelul : 21 Maret 2009)
Tindakan Fair Play yang dilakukan oleh gelandang Rapid Bucharest (Rumania), Costin Lazar, ketika dihadiahi tendangan penalti pada menit ke-63 pada pertandingan melawan Otelul Galati. Tetapi ketika wasit menaruh bola di titik 12 pas, Costin berjalan menjauh dan menolak hadiah penalti tersebut karena dia merasa tidak terjadi pelanggaran terhadap dirinya yang mengakibatkan terjadinya penalti. Wasit akhirnya membatalkan penalti tersebut dan akhirnya bola diberikan ke penguasaaan Otelul. Pertandingan sendiri berakhir dengan skor 4-0 untuk Rapid.
http://blog.mysport.ro/cristiansapunaru/files/2009/03/costin-lazar.jpg

4. Paolo Di Canio (West Ham vs Everton : 2001)
Siapa yang tak kenal Paolo Di Canio? Striker asal Italia ini dianggap sebagai salah satu biang keonaran di lapangan dan pemain dengan tempramen tinggi yang meledak-ledak. Namun mantan striker West Ham United ini juga bisa berjiwa besar. Itu dibuktikan dengan diraihnya penghargaan sebagai pemain paling fair pada 2001 oleh FIFA. Penghargaan ini diberikan atas aksi Di Canio yang memutuskan membuang bola saat ia melihat kiper Everton Paul Gerrard terkapar, padahal 99% pasti gol kalau dia memutuskan untuk meneruskan permainan dan tinggal menceploskan bola ke gawang yang kosong.
http://mazingazeta.files.wordpress.com/2008/03/dicanio1.jpg?w=450

5. Amin Motavassel Zadeh (Moghavemat Sepasi vs Steel Azin : 28 Januari 2010)
Pada saat pertandingan antara Moghavemat Sepasi vs Steel Azin, striker Amin Motavassel Zadeh mendapatkan kesempatan untuk mencetak gol setelah berada dalam posisi yang memungkinkan dirinya untuk mencetak gol tanpa adanya kiper di bawah mister gawang. Uniknya Zadeh membuang kesempatan emas itu dengan membuang bola ke pinggir lapangan setelah melihat kiper dari tim Azin yang masih tergeletak akibat bertabrakan dengan salah satu penyerang Moghavemat Sepasi, dan segera memanggil tim medis untuk memeriksa kiper tim Azin yang bertabrakan itu. Sampai pertandingan itu berakhir tim Amin Zadeh, Moghavemat Sepasi kalah dengan skor 2-1 atas Steel Azin.
http://www.djarum-super.com/watermarked/07_Amin_raw.jpg
Read more >>